Wednesday, September 26, 2012

Tugas 5 - Sejarah dan Perkembangan Lampu


Lampu pijar
Lampu pijar adalah sumber cahaya buatan yang dihasilkan melalui penyaluran arus listrik melalui filamen yang kemudian memanas dan menghasilkan cahaya. Kaca yang menyelubungi filamen panas tersebut menghalangi udara untuk berhubungan dengannya sehingga filamen tidak akan langsung rusak akibat teroksidasi.
Lampu pijar dipasarkan dalam berbagai macam bentuk dan tersedia untuk tegangan (voltase) kerja yang bervariasi dari mulai 1,25 volt hingga 300 volt. Energilistrik yang diperlukan lampu pijar untuk menghasilkan cahaya yang terang lebih besar dibandingkan dengan sumber cahaya buatan lainnya seperti lampu pendar dan diode cahaya, maka secara bertahap pada beberapa negara peredaran lampu pijar mulai dibatasi.
Di samping memanfaatkan cahaya yang dihasilkan, beberapa penggunaan lampu pijar lebih memanfaatkan panas yang dihasilkan, contohnya adalah pemanas kandangayam,  dan pemanas inframerah dalam proses pemanasan di bidang industri. Dalam hubungannya dengan Sistem Informasi Manajemen, lampu merupakan salah satu alat penunjang yang digunakan pada hampir setiap kegiatan. Dalam hal pemasarannya, PLN memberikan kemudahan melalui lampu hemat energi yang harganya lebih mahal daripada lampu biasa yang bisa dibeli dengan cara mencicil.
Melihat dari perkembangannya, lampu tidak hanya digunakan sebagai alat penerangan, tetapi sebagai indikator suatu barang elektronik. Misalnya lampu indikator pada monitor komputer, lampu yang berkedip pada handphone, lampu sen yang digunakan pada motor sebagai tanda/sinyal.
Lampu di setiap rumah umumnya tergolong pada lampu pijar.Cahaya dari lampu pijar merupakan pemijaran dari filament pada bohlam. Lalu apa kelebihan dan kekurangan lampu pijar itu? Berikut ini artikel yang menerangkan tentang keunggulan dan kelemahan lampu pijar.


Lampu pijar ini mempunyai keunggulan antara lain :
·         Mempunyai nilai ”color rendering index” 100% yang cahayanya tidak
·         merubah warna asli obyek;
·         Mempunyai bentuk fisik lampu yang sederhana, macam-macam bentuknya
·         yang menarik, praktis pemasangannya;
·         Dan harganya relatif lebih murah serta mudah didapat di toko-toko;
·         Instalasi murah, tidak perlu perlengkapan tambahan;
·         Lampu dapat langsung menyala;
·         Terang-redupnya dapat diatur denga dimmer;
·         Cahayanya dapat difokuskan.

Sedangkan kelemahan lampu pijar antara lain:

·         Mempunyai efisiensi rendah, karena energi yang dihasilkan untuk cahaya
hanya 10% dan sisanya memancar sebagai panas (400oC);
·         Mempunyai efikasi rendah yaitu sekitar 12 lumen/watt;
·         Umur lampu pijar relatif pendek dibandingkan lampu jenis lainnya (sekitar
·         1.000 jam);
·         Sensitif terhadap tegangan;
·         Silau                                                                   

Sejarah Lampu Pijar
Pada mulanya manusia membutuhkan penerangan pada malam hari dengan cara menggosok-gosokan batu hingga mengeluarkan api/cahaya, kemudian dari api dikembangkan dengan membakar benda-benda yang mudah menyala hingga membentuk sekumpulan cahaya, seterusnya sampai ditemukan bahan bakar minyak dan gas yang digunakan untuk lampu obor, lampu minyak, lampu gas. Pengembangan lampu pijar sudah dimulai pada awal abad XIX. Sejarah lampu pijar dapat dikatakan telah dimulai dengan ditemukannya tumpukan volta oleh Alessandro Volta. Pada tahun 1802,Sir Humphry Davy menunjukkan bahwa arus listrik dapat memanaskan seuntai logam tipis hingga menyala putih. Lalu, pada tahun 1820Warren De la Rue merancang sebuah lampu dengan cara menempatkan sebuah kumparan logam mulia platina di dalam sebuah tabung lalu mengalirkan arus listrik melaluinya. Hanya saja, harga logam platina yang sangat tinggi menghalangi pendayagunaan penemuan ini lebih lanjut. Elemen karbon juga sempat digunakan, namun karbon dengan cepat dapat teroksidasi di udara; oleh karena itu, jawabannya adalah dengan menempatkan elemen dalam vakum.
Pada tahun 1870-an, seorang penemu bernama Thomas Alva Edison dari Menlo Park, negara bagian New Jersey, Amerika Serikat, mulai ikut serta dalam usaha merancang lampu pijar. Dengan menggunakan elemen platina, Edison mendapatkan paten pertamanya pada bulan April 1879. Rancangan ini relatif tidak praktis namun Edison tetap berusaha mencari elemen lain yang dapat dipanaskan secara ekonomis dan efisien. Pada tahun yang sama, Sir Joseph Wilson Swan juga menciptakan lampu pijar yang dapat bertahan selama 13,5 jam. Sebagian besar filamen lampu pijar yang diciptakan pada saat itu putus dalam waktu yang sangat singkat sehingga tidak berarti secara komersial. Untuk menyelesaikan masalah ini, Edison kembali mencoba menggunakan untaian karbon yang ditempatkan dalam bola lampu hampa udara hingga pada tanggal 19 Oktober 1879 dia berhasil menyalakan lampu yang mampu bertahan selama 40 jam.
Lampu Neon

Sebuah lampu neon terdiri dari dua elektroda yang berupa logam dan terletak di ujungujung sebuah tabung neon. Tabung ini sendiri berisi tiga jenis zat kimia, yakni neon, argon, atau dapat juga diisi kripton. Ketiga jenis zat itu berupa gas. Ketika kedua elektroda diberi tegangan listrik, maka elektron akan keluar dari salah satu elektroda menuju elektroda lain. Dalam perjalanannya, elektron-elektron ini akan menghantam atom-atom gas neon.

Energi gas neon kemudian akan naik dalam waktu singkat untuk kemudian kembali ke keadaan semula. Selama proses kembali ke keadaan semula itu, gas neon akan memancarkan energi berupa gelombang cahaya. Cahaya inilah yang kita lihat sebagai lampu neon. Kata neon berasal dari dari bahasa Yunani yakni neos, yang berarti gas baru. Gas ini berwarna merah. Lampu neon pertama kali ditemukan oleh ahli kimia dan fisika asal Prancis bernama Georges Claude pada 1902.

Sedangkan gas neon ditemukan oleh dua ahli asal Inggris bernama William Ramsey dan MW Travers pada 1898. Lalu, pernah kamu melihat laron (binatang terbang kelekatu) yang selalu mendekati lampu neon ketika hujan datang? Mengapa hal ini terjadi? Hujan membuat suhu tubuh laron sangat dingin. Maka itu laron mencari tempat hangat dan terang. Lampu neon merupakan sumber kedua hal itu, maka itu laron mengerubungi neon. Sayangnya, laron kerap tidak menyadari bahwa panas neon itu dapat membahayakannya. Akibatnya laron dapat mati seketika. 



Sejarah Lampu Neon

Georges Claude. Pada 1902, Pria kebangsaan Prancis ini menemukan sinar cahaya melalui lampu neon untuk keperluan periklanan. Berkat usahanya, seluruh dunia mulai mengenal neon (TL/ tube lamp) hingga saat ini.
Georges Claude, lahir 4 September 1870, di kota Paris. Ia tumbuh dan dewasa di kota kelahirannya. Dalam menjalani pendidikan di universitas, ia sangat memuja ahli fisika Perancis Jaques de Arsonval yang mengemukakan konsep konversi energi panas laut, atau KEPL (ocean thermal energy conversion/OTEC) sebagai salah satu penggunaan dari siklus Rankine. Setelah lulus kuliah, Claude melanjutkan karier intelektualnya dengan bekerja membuat tabung oksigen untuk keperluan rumah sakit.
Pada 1902, insinyur dan ahli kimia ini berusaha mengembangkan aliran listrik ke dalam tabung gas neon. Usahanya pun berbuah manis. Ia berhasil membuat lampu neon (neon berasal dari bahasa Yunani neos, yang berarti gas baru), berwarna merah. Merasa tertarik ia lalu menambah jumlah tabung dan mengisinya dengan neon. Segera setelah itu ia mendapatkan untuk pertama kalinya tabung neon yang sesungguhnya.
Sebagian besar literatur menyebutkan, lampu neon ciptaan Georges Claude, memiliki sebuah tabung kaca tertutup yang mengandung sangat sedikit udara, sedikit air raksa, bubuk putih fosfor, dan dua elektroda (katoda dan anoda) pada setiap ujung tabung. Selain itu terdapat transformer yang mengatur aliran listrik ke tabung. Begitu saklar dihidupkan transformer mengaliri listrik ke dalam tabung. Aliran listrik tersebut meloncat (arc) dari katoda ke anoda sehingga menguapkan air raksa menjadi ion. Gas air raksa mengeluarkan sinar ultraviolet yang tidak tampak yang membentur bubuk putih fosfor sehingga menghasilkan cahaya yang memancar.
Namun penemuan lampu neon belum sempurna. Sinar tabung-tabung merah itu tak seperti sumber cahaya lainnya yang berguna untuk keperluan umum sehari-hari, seperti menerangi rumah atau jalan tangga, akibatnya lampu neon menjadi lembap. Pada waktu itu, para ilmuwan dan saintis menyebutkan, kelemahan lampu neon pada waktu itu diakibatkan neon tak bisa di kompilasikan dengan elemen lain pada tabung lainnya, artinya gas baru tak membutuhkan katup gas.
Meski demikian, Claude tidak menyerah dan berusaha untuk menyempurnakan temuannya ini. Setelah melakukan penelitian, lampu neon yang memancarkan warna merah ini menarik perhatian dan kemampuannya bertahan di tengah siraman hujan dan kabut. Alhasil, temuan yang spektakuler ini cukup efektif digunakan untuk iklan dan reklame. Hasil temuannya ini, ia publikasikan di Paris pada 1910. Atas bantuan kawannya, ia memperkenalkan lampu buatannya itu ke Amerika. Agar temuannya tidak ditiru orang. Claude mematenkan lampu neon di Amerika Serikat. Semenjak itu ia mulai dikenal sebagai seorang jenius yang berhasil menemukan lampu neon yang merupakan pelopor lampu pijar untuk keperluan periklanan
Pada 1915, untuk pertama kalinya lampu neon dijual kepada khalayak umum. Seorang Pengusaha Earle C. Anthony, membeli lampu neon seharga U$ 24 ribu. Lampu itu, ia gunakan untuk menerangi papan reklame perusahaan penjualan mobil miliknya di Los Angeles. Pertama kali lampu neon Claude hanya berwarna biru dan merah. Bisa dikatakan sejak saat itu hingga kini lampu bikinan Claude kerap dipakai untuk menerangi papan reklame seperti kasino, hotel, swalayan, maupun lampu lalu lintas dan keperluan lainnya.
Claude lalu mengembangkan teknologi neon buatannya itu. Ia menemukan elektroda-elektroda nonreaktif yang cukup untuk menangani gempuran ion tanpa membuatnya panas. Temuan itu membuka cakrawala bagi perawatan tabung-tabung neon sehingga menjadi awet digunakan.
Di puncak kariernya, George Claude sempat membuat pusat listrik tenaga KEPL di Teluk Matanzas dekat Kuba, tahun 1930. Pusat tenaga listrik ini dengan daya 22 KW hanya dapat bekerja selama dua minggu karena dihancurkan oleh angin topan sehingga pipa untuk masukan airnya rusak total. Proyek itu kemudian dihentikan. Lima tahun kemudian, Claude membangun pembangkit lain. Kali ini di pantai Brazil, namun projek tersebut mengalami nasib yang sama hancur oleh cuaca dan ombak.
Hampir sepenuh masa hidupnya, George Claude dengan penemuannya mengabdi pada dunia. Ia meninggal pada 23 Mei 1960, saat berusia 90 tahun. Jasadnya boleh dikuburkan. Namun pemikiran dan penemuannya tidak habis dimakan zaman.

LAMPU LED

 Lampu led tidak mengandung mercury sehingga tidak menghasilkan panas. Tentu ini akan membuat ruangan jadi lebih dingin dibandingkan jika menggunakan lampu biasa. Ini juga memuat AC (Air conditioning) bekerja lebih ringan sehingga pemakaian listrik lebih hemat.
Dari segi daya tahan, lampu ini jauh lebih tahan lama daripada lampu tabung biasa. Lampu led bisa digunakan dimana saja, karena menggunakan daya listrik DC, lampu ini mendapat daya dari aki kering, aki basah, aki mobil, atau bisa juga mengambil daya dari panel solar untuk listrik gratis tenaga surya. Lebih tahan lama. Lampu LED (Light Emiting Diode) mempunyai daya tahan 60x lebih lama daripada lampu Incandescent, dan 10x lebih lama daripada lampu model Fluorescent. Sekali pakai, lama ngga ganti-ganti   Menggunakan memang lampu led banyak keuntungannya. Sudah hemat energi, hemat biaya dan Anda bisa berpartisipasi mengurangi pemanasan global. Lampu led juga disebut lampu emergency atau lampu darurat. Jika listrik padam, cukup hubungkan ke accu kering, maka lampu bisa menyala kembali. Jika daya di accu habis, tinggal dicharge menggunakan charger accu. Cocok untuk berjaga-jaga jika di daerah sering terjadi pemadaman listrik.



SEJARAH LED

Pak Shuji Nakamura sebagai penemu LED dengan bahan yang nyaris sudah tidak digubris oleh para peneliti lainnya, Galiun Nitrid (GaN) tahun 1991. Pada tahun 1993, Pak Nakamura kemudian berhasil meciptakan LED biru komersial, menyusul LED berwarna hijau dan putih. Dan pada tahun 1995, Pak Nakamura berhasil menciptakan laser biru. Dengan penemuannya Blue LED (terbaru untuk penopang Blu-Ray PS3 ny SONY itu) ini dinilai telah melakukan revolusi di bidang elektronika dan upaya kepada penghematan enerji.
Melihat latar belakang dan serba serbi penemuannya, maka Pak Nakamura adalah benar2 “inventor sejati” dan orang yang loyal kepada perusahaannya (di awalnya ;-)). Dengan fasilitas seadanya di perusahaan kecil di Tokushima, anggapan ketakadaan prospek bagi materi yang digelutinya, dan di bawah bayang2 persaingan pengembangan diode oleh perusahaan2 besar macam Toshiba, maka keberhasilannya sangatlah mencengangkan. “Jalan sepi” yang dilaluinya, setelah mencapai keberhasilan, hanya diganjar bonus 20 ribu yen saja oleh perusahaannya Nichia Corporation. Padahal keuntungan perusahaan ini jadi berlipat ganda sejak komersialisasi hasil temuannya ini.

Sumber : Wikipedia dan beberapa website dari Google

1 comment:

Comments system

Disqus Shortname