Thursday, September 27, 2012

Perkembangan Perang Dingin

"44 Tahun Perang tanpa Pertempuran"
Pembagian Peta Geopolitik saat Perang Dingin


Bernard Baruch

Perang dingin merupakan perang yang berlangsung sejak tahun 1947-1991 antara blok barat yang dipimpin Amerika Serikat dan blok timur yang dipimpin Uni Soviet. Ada beberapa pengertian mengenai perang dingin. Menurut Wikipedia, perang dingin merupakan “Ketegangan militer dan politik yang berkelanjutan, antara blok barat yang dipimpin Amerika Serikat dan sekutunya dengan Uni Soviet, negara-negara satelitnya, dan sekutunya.” Sedangkan menurut Norman Friedman dalam bukunya yang berjudul “The Cold War”, perang dingin merupakan “Usaha barat untuk mencegah usaha Uni Soviet untuk menguasai perang dingin itu sendiri dan dunia.”

Kata perang dingin sendiri berasal dari essai yang berjudul “You and the Atomic Bomb” yang ditulis oleh seorang jurnalis Inggris bernama George Orwell. Essai ini membahas tentang ancaman dunia yang sedang dibayang-bayangi oleh perang nuklir. Istilah ini pertama kali digunakan untuk menggambarkan ketegangan geopolitik antara blok barat dengan blok timur oleh Bernard Baruch, seorang ekonom dan penasihat presiden Amerika Serikat dalam pidatonya di South Carolina pada 16 April 1947. Ia mengatakan “Let us not be deceived: we are today in the midst of a cold war.”(Jangan sampai terperdaya: kita sekarang sedang berada di tengah sebuah perang dingin)


Terdapat beberapa perbedaan pendapat diantara para sejarawan mengenai awal mula perang dingin. Ada yang berpendapat bahwa perang dingin dimulai sejak berakhirnya perang dunia kedua. Sedangkan yang lain berpendapat bahwa perang dingin dimulai sejak berakhirnya perang dunia pertama, walaupun sebenarnya ketegangan antara Kekaisaran Rusia, negara-negara Eropa serta Amerika Serikat sudah ada sejak pertengahan abad ke 19.
      
 LATAR BELAKANG

Vladimir Lenin dan Joseph Stalin
Sejak revolusi bolshevik tahun 1917 yang menyebabkan komunis berkuasa di Rusia, Rusia sedang dalam keadaan terisolir dari dunia internasional. Vladimir Lenin, pemimpin pada masa itu berpendapat bahwa Soviet Rusia sedang “terkepung oleh kapitalis”, dan dia melihat bahwa diplomasi merupakan senjata agar musuh-musuh Soviet tetap terjaga jaraknya, diawali dengan pembentukan The Communist International (Comintern). 

 Joseph Stalin, penerus Vladimir Lenin, mengatakan bahwa Uni Soviet harus melihat bahwa “sosialis akan menggantikan kapitalis yang sedang berkuasa”. Pada awal tahun 1925, Stalin melihat bahwa percaturan politik dunia sudah mulai bipolar; Uni Soviet akan menarik negara lain ke arah sosialis, sedangkan negara kapitalis akan menarik negara lain ke arah kapitalis.
 
Sejak saat itu sampai sebelum perang dunia, banyak kejadian-kejadian yang menggambarkan rasa saling curiga antar dua pihak, seperti dukungan barat terhadap pergerakan anti bolshevik saat perang saudara Rusia, pemberian dana oleh Uni Soviet untuk pekerja Inggris yang sedang mogok kerja yang menyebabkan Inggris memutuskan hubungan diplomatik dengan Uni Soviet, dan lain-lain. 

Pada tahun 1941, tentara Jerman menginvasi Uni Soviet. Sekutu melihat keuntungan terbentuknya front baru ini, sehingga sekutu memutuskan untuk membantu Uni Soviet. Inggris secara resmi menandatangani perjanjian persekutuan, sedangkan Amerika Serikat melakukannya secara tidak resmi. Bagaimana pun, Stalin tetap curiga terhadap ini semua. Sampai akhirnya berakhirlah perang dunia kedua yang dimenangi oleh sekutu. 

PERDAMAIAN YANG GAGAL

Setelah perang dunia berakhir, banyak orang mengira bahwa tiga kekuatan terbesar yang memenangi perang dunia – Amerika Serikat, Inggris, dan Uni Soviet – akan bekerja sama untuk menjaga perdamaian, karena mereka telah mengorbankan banyak hal untuk memenangi perang ini. Pada Februari 1945, pemimpin dari ketiga negara tersebut yaitu Franklin D. Roosevelt, Winston Churcill dan Joseph Stalin mengadakan pertemuan di Yalta, yang lebih dikenal dengan Konferensi Yalta. Selain penyerahan oleh Nazi Jerman dan pembagian Jerman dan Berlin menjadi empat zona, hasil dari konferensi ini adalah persetujuan Uni Soviet untuk melaksanakan pemilu di Polandia, negara yang dibebaskan dari Jerman oleh Soviet.


Churcill, Roosevelt, dan Stalin



Setelah itu, diadakan Konferensi Postdam di Postdam, Jerman pada Juli 1945. Jerman dan Berlin terbagi menjadi empat zona, yaitu zona Amerika Serikat, Inggris, Perancis dan Uni Soviet (Zona Uni Soviet selanjutnya menjadi Jerman Timur). Empat kekuatan tersebut sepakat untuk mengadakan pemilu di Jerman untuk menyatukan negara tersebut. Namun, semakin terlihat jelas bahwa Stalin menginginkan adanya kerusuhan di wilayah non-Soviet untuk meyakinkan pemilih disana agar memilih Komunis, sehingga keseluruhan Jerman, yang merupakan negara industri, dikuasai oleh Komunis (dan Soviet). Pada akhirnya, Amerika dan Inggris menggabungkan kedua wilayahnya tersebut, membuat mata uang baru yang berbeda dari zona Soviet, dan terbentuklah negara baru yaitu Jerman Barat. 
Pembagian wilayah Jerman
 

DOKTRIN TRUMAN, MARSHALL PLAN, NATO

 Doktrin Truman, yang dicetuskan oleh Presiden Henry Truman menyatakan bahwa “Amerika Serikat akan menolong negara apa pun yang sedang menghadapi serangan komunis.” Doktrin ini didasari perang saudara di Yunani, antara pihak pemberontak komunis yang didukung Yugoslavia yang dipimpin Josip Broz Tito, dengan pasukan Kerajaan Yunani yang didukung Inggris. 

Pada awalnya, Amerika Serikat mengharapkan Inggris dapat menangani komunisme di Eropa. Namun, pada masa itu, akhirnya Inggris meminta bantuan kepada Amerika Serikat karena mereka sudah tidak mampu lagi menangani Yunani. Hal ini perlu dilakukan, karena apabila Yunani jatuh ke tangan komunis, Soviet dapat memperoleh basis di Mediterania, sehingga mengancam jalur tanker dari Timur Tengah ke Eropa Barat. Amerika Serikat pun bersedia memberikan bantuan ekonomi dan militer, sehingga komunis pun gagal merebut Yunani. 

Akibatnya, Stalin yang saat itu pemimpin Soviet, marah terhadap Tito karena bertindak sendiri, dan memerintahkan Tito untuk dibunuh dan Yugoslavia diinvasi. Namun semua itu tidak pernah terjadi. Tito pun berteman dengan Barat, dan hal yang ditakutkan Stalin pun terjadi: Barat dapat menerima sebuah pemerintahan komunis asalkan tidak terikat dengan Uni Soviet.

European Recovery Program (Program Pemulihan Eropa), atau lebih dikenal dengan Marshall Plan, merupakan sebuah program bantuan ekonomi kepada negara-negara eropa barat. Program ini dicetuskan oleh George C. Marshall, Menteri Luar Negeri Amerika Serikat pada tanggal 5 Juni 1947. Marshall dan orang-orang Amerika pada saat itu sadar bahwa eropa barat tidak akan pernah aman, kecuali ekonominya kuat. Bantuan ini diberikan dengan satu syarat: Eropa harus mengembangkan dan mendukung program-program yang disetujui Amerika Serikat. Inggris merupakan negara pertama yang menerima bantuan ini. Dana yang disediakan sebesar 13 milyar dollar. 
George Marshall


Pada awalnya Amerika Serikat juga menawarkan bantuan ini kepada Stalin, namun ia menolaknya dan menyuruh Ceko dan Polandia untuk melakukan hal yang sama. Namun Ceko memperlihatkan ketertarikannya kepada program ini, dan menunjukkan kepada Stalin kalau ia tidak memiliki kekuasaan yang kuat di Ceko. Akhirnya terjadilah kudeta di Ceko tahun 1948. 

Lambang NATO
Sedangkan NATO (North Atlantic Treaty Organization, atau Pakta Pertahanan Atlantik Utara) merupakan organisasi yang dibentuk oleh Amerika Serikat dan  beranggotakan Amerika Serikat bersama sekutu-sekutunya. Pembentukan NATO diawali dengan pembentukan Western European Union (Uni Eropa Barat) yang diprakarsai oleh Ernest Bevin, Menteri Luar Negeri Inggris dan beranggotkan negara-negara Eropa Barat. Eropa Barat merasa bahwa mereka tidak mampu melawan ketangguhan Soviet, sehingga mereka perlu membentuk suatu organisasi untuk melindungi dari Soviet. NATO berpegang pada prinsip “serangan untuk satu negara adalah serangan untuk semua”. Besar peran Amerika Serikat dalam NATO, seperti memberikan banyak peralatan militer kepada negara anggotanya dan pendanaan untuk riset militer.


THE BERLIN AIRLIFT


The Berlin Airlift, atau “Jembatan udara Berlin” merupakan sebuah misi untuk mengirimkan makanan dan suplai bahan kebutuhan lainnya ke Berlin bagian Amerika dan Inggris yang terletak di wilayah Jerman Timur yang merupakan wilayah Soviet Soviet, yang dilakukan sejak 28 Juni 1948-12 Mei 1949. Hal ini dikarenakan oleh pemblokadean akses ke Jerman Timur dari wilayah Jerman Barat melalui darat oleh Stalin, untuk menunjukkan bahwa kekuatan barat tidak bisa melindungi mereka. Ini didasari oleh prediksi pemimpin Partai Stalin di Jerman, Wilhelm Pieck bahwa pemilu pada Oktober 1948 dapat membahayakan komunis, kecuali pihak barat diusir dari wilayah mereka. Akhirnya tanggal 28 Juni 1948 semua pasokan listrik dan bahan kebutuhan dari Jerman Timur dihentikan, dan keesokan harinya semua akses melalui darat diblokade. Ia mengumumkan bahwa barat tidak berhak mengatur lagi pemerintahan di daerah itu.  Akhirnya blokade ini berhenti pada 12 Mei 1949.

PERANG KOREA

Perang dunia kedua menyisakan pembagian wilayah Korea menjadi 2: utara yang dikuasai Soviet dan selatan yang dikuasai Amerika. Pada Januari 1949, pasukan Amerika ditarik dari Korea Selatan. Saat itu pula, pemimpin Korea Utara, Kim Il Sung, memohon kepada Stalin untuk membiarkan ia menginvasi Korea Selatan. Karena pada saat itu Amerika kekurangan sumber daya, sehingga Korea sudah tidak termasuk garis pertahanan pasifik, maka Stalin menyetujui rencana itu, dan ia menyediakan tank untuk menginvasi Korea Selatan pada 25 Juni 1950.

Amerika Serikat pun meminta izin kepada PBB untuk menyetujui tindakannya untuk menggerakkan pasukan ke Korea. Karena sebelumnya delegasi Uni Soviet walk out dari ruang sidang PBB, akhirnya PBB pun menyetujuinya, dan ini berubah menjadi misi PBB. Pada awalnya, pasukan PBB sudah mulai masuk ke area Korea Utara lebih jauh lagi, namun kedatangan bantuan pasukan dari RRC menyebabkan pasukan PBB terdesak mundur lagi sampai garis yang membatasi kedua Korea. Akhirnya dilakukan lah perjanjian gencatan senjata, yang masih berlaku hingga saat ini.
Pasukan AS saat Perang Korea


REVOLUSI KUBA DAN INVASI TELUK BABI

Presiden Kuba saat itu, Fulgencio Batista, digulingkan oleh Gerakan 26 Juli yang dipimpin oleh seorang revolusioner muda, Fidel Castro, yang sudah berhubungan dengan KGB (Komitet Gosudarstvennoy Bezopasnosti, Badan Intelijen Uni Soviet) sejak tahun 1956. Dan sejak dibawah kekuasaan Fidel Castro, Kuba pun memulai pembelian senjata dari Eropa Timur. Hal ini menunjukkan keinginan untuk pembentukan suatu negara komunis baru yang berjarak sangat dekat dengan Amerika. Hal ini membuat Washington memanas. Walaupun sejak kejatuhan Batista Amerika masih sempat menjalin hubungan diplomatik dengan Kuba, namun pada akhirnya pada tahun 1961, menjelang selesainya masa jabatan Presiden Eisenhower, Amerika memutuskan hubungan diplomatiknya dengan Kuba. 


Fidel Castro
Untuk mencegah meluasnya pengaruh komunis di Amerika Latin, akhirnya pada masa pemerintahan Presiden John F. Keneddy, tepatnya pada tanggal 17 April 1961 dilakukan invasi ke Teluk Babi, dengan tujuan untuk menggulingkan Presiden Fidel Castro. Pemerintah Amerika, melalui CIA (Central Intelligence Agency, Badan Intelijen AS), merekrut sekitar 1.500 pengungsi asal Kuba di Miami yang anti Castro untuk melakukan invasi. Namun, pada akhirnya invasi ini menuai kegagalan, setelah Presiden Keneddy membatalkan bantuan pesawat tempur saat serangan pertama, dan kondisi yang diharapkan pun tidak terjadi. Awalnya CIA mengira bahwa tempat pendaratan itu merupakan basis pendukung anti Castro, namun kenyataannya sebaliknya, sehingga dengan mudahnya para tentara bayaran CIA pun dihancurkan oleh tentara Kuba. Karena gagal, akhirnya Amerika memberlakukan embargo, dimana hal ini menyebabkan Kuba semakin dekat dengan Soviet. Hal ini sangatlah mempermalukan Amerika Serikat, terutama Presiden Keneddy.

TEMBOK BERLIN

Tembok Berlin merupakan sebuah tembok sepanjan 100 mil yang memisahkan antara Berlin Barat dan Berlin Timur, yang menjadi simbol utama dari Perang Dingin. Pembangunan tembok ini berdasarkan perintah oleh Presiden Uni Soviet saat itu, Nikita Khrushchev. Pada awalnya, Berlin terbagi 2 pada masa setelah perang dunia, yaitu Berlin Barat yang dikuasai pihak sekutu dan Berlin Timur yang dikuasai pihak Soviet. Pada tahun 1961, banyak orang yang melarikan diri dari Berlin Timur. Khrushchev menolak untuk menyuap warga Jerman Timur agar tetap tinggal atau membiarkan Jerman Timur jatuh. Mengingat bahwa Berlin Barat hanyalah sebuah status, maka Khrushchev berpikir kalau menandatangani perjanjian damai dengan Jerman Timur bisa mengakhiri statusnya dan mengusir pihak barat. Namun, pihak barat tetap mempertahankan Berlin Barat, bahkan akan terus berjuang untuk mempertahankannya. Khrushchev sadar kalau barat tidak menginginkan akses ke seluruh kota, melainkan hanya agar Berlin Barat aman, sehingga dibangunlah tembok ini.
Tembok Berlin


KRISIS MISIL KUBA

Krisis ini terjadi pada bulan Oktober 1962. Krisis ini dipicu oleh penempatan misil nuklir berjarak menengah dan jauh oleh Khrushchev di Kuba, yang hanya berjarak beberapa menit penerbangan dari wilayah Amerika. Penempatan ini merupakan ‘balasan’ atas penempatan misil Amerika di Inggris, Italia dan Turki yang dapat membahayakan Moskow. Krisis ini hampir saja memicu perang dunia ketiga atau konflik nuklir, andaikan Presiden Keneddy tetap memerintahkan penyerangan pada pangkalan misil ini. Namun, Presiden Keneddy hanya memerintahkan blokade wilayah Kuba dari laut. Setelah 13 hari mengalami krisis ini, dan dengan diplomasi yang sangat hati-hati, akhirnya Khrushchev menarik kembali misilnya dan berjanji tidak akan membangun pangkalan senjata lagi, asalkan Amerika menarik misilnya dari Italia dan Turki. Selan itu juga mulai diberlakukan perjanjian pembatasan senjata nuklir.

PERANG VIETNAM

Perang ini terjadi dari 1 November 1955 sampai kejatuhan Saigon (sekarang Ho Chi Minh City) pada 30 April 1975. Perang ini terjadi antara Vietnam Selatan yang didukung oleh Amerika dengan Vietnam Utara yang didukung oleh komunis. Amerika Serikat melibatkan diri dalam perang ini bertujuan untuk mencegah Vietnam dan negara-negara di sekitarnya jatuh ke tangan komunis. Namun, pada akhirnya Amerika “kalah”, dan menarik mundur pasukannya dari Vietnam, dan pada akhirnya Vietnam Selatan pun jatuh ke tangan komunis dan jadilah negara Vietnam saat ini.

Saat Perang Vietnam

 
INVASI AFGHANISTAN

Pada tahun 1978, terjadi kudeta oleh pasukan pro-Soviet, mengakibatkan jatuhnya pemerintahan netral di negara itu. Lalu pemerintahan yang baru meminta tolong kepada Moskow untuk membantu mereka melawan pemberontak muslim. Karena ketakutan Soviet akan pemberontak muslim yang anti Soviet sehingga bisa membahayakan Soviet (karena wilayah yang dekat dengan Soviet) dan karena pola pikir perang dingin, dimana barat membantu pemberontak ini, akhirnya Soviet menginvasi Afghanistan, menjatuhkan pemerintahan lama dan menunjuk penggantinya. 

Amerika Serikat dengan keras menentang invasi ini, memboikot Olimpiade 1980 di Moskow, dan mengirimkan bantuan kepada pihak pemberontak muslim. Namun sebenarnya beberapa pihak sudah menyadari bahwa Soviet tidak akan memenangkan pertempuran ini, karena pemberontak melakukan perang gerilya yang efektif dan mereka selalu menolak untuk menyerah. Pada akhirnya, karena sudah tidak sanggup lagi, Soviet menarik pasukannya dari Afghanistan walaupun mereka tetap mendukung pemerintahan yang telah mereka bentuk.
Tentara Soviet


RUNTUHNYA TEMBOK BERLIN DAN REVOLUSI EROPA TIMUR

Pemimpin Soviet Mikhail Gorbachev sadar bahwa “kekaisaran” Eropa Timur sudah tidak bisa lagi dipertahankan. Pada tahun 1988, ia mengeluarkan sebuah doktrin yang lebih dikenal dengan “doktrin Sinatra”, yang intinya adalah Soviet tidak akan memaksakan komunisme untuk tetap berdiri di Eropa Timur dengan kekerasan. Karena adanya doktrin ini, untuk pertama kalinya Hungaria yang dipimpin oleh Karoly Grosz, membuka perbatasannya ke wilayah barat. 

Runtuhnya Tembok Berlin, simbol perang dingin
Pada hari kelahiran Jerman Timur yang ke 40 tahun, secara terang-terangan Gorbachev mengkritik Erich Honecker, pemimpin Jerman Timur karena ketidakinginannya untuk melakukan reformasi. Mencium akan adanya keterbukaan, akhirnya warga Jerman Timur berunjuk rasa di Berlin Timur, Leipzig, Dresden, dan lain-lain. Pada awalnya, polisi masih bisa mengatasi massa, namun semakin lama semakin tidak sanggup lagi. Pada masa ini pun ekonomi Jerman Timur sedang dalam masa krisis. Pemimpin baru Jerman Timur, Egon Krenz pun sadar kalau Jerman Timur telah terpecah. Soviet pun sudah tidak bisa lagi memberikan bantuan. Kanselir Jerman Barat Helmut Kohl meminta untuk diadakan reformasi, seperti kemudahan untuk keluarga di Jerman Timur agar bertemu dengan sanaknya di Barat. Pemerintahan Jerman Timur pun panik: mereka terpaksa menyerahkan kekuasaan partai komunis. Akhirnya tembok Berlin pun dibuka, dan Kohl pun membuat rencana reunifikasi kedua negara.

Runtuhnya tembok Berlin sekaligus Jerman Timur diikuti dengan berbagai revolusi di Eropa Timur. Satu persatu pemerintahan komunis di negara-negara tersebut pun jatuh. Yang pertama kali adalah Cekoslovakia, dimana pemerintahan disana jatuh, dan kepemimpinan dipegang oleh non-komunis, yaitu Vaclav Havel. Disusul kejatuhan pemimpin Rumania, Nicolai Ceausescu dan kejatuhan pemerintahan komunis di Polandia.


KEJATUHAN UNI SOVIET

Mikhail Gorbachev merupakan seorang pemimpin Soviet yang mencangankan beberapa reformasi, seperti Perestroika (perubahan sistem politik dan ekonomi Soviet) dan Glasnost (keterbukaan). Reformasi ini dibarengi dengan pemilu di beberapa republik Soviet. Di dalam beberapa negara juga sudah ada yang memikirkan tentang kemerdekaan dari Soviet, dan ada juga yang ingin tetap menjadi bagian Soviet dengan beberapa persyaratan. Bagi Gorbachev, solusinya adalah mengubah Soviet menjadi sebuah konfederasi yang terikat oleh suatu traktat. Secara tidak langsung, Gorbachev menghancurkan suatu sistem yang memberikan kekuasaan bagi mereka. 

Akhirnya, saat Gorbachev berlibur di Laut Hitam, musuhnya mengkudeta dia, dipimpin oleh Wakil Presiden Gennady I. Yanayev. Kudeta ini dapat dilakukan karena keberanian Presiden Republik Russia (bagian dari Soviet) Boris Yeltsin. Boris Yeltsin sadar bahwa ia lebih populer dibanding Gorbachev. Namun pada akhirnya, Yeltsin mengumumkan bahwa kudeta ini ilegal, dan Gorbachev diberikan lagi kekuasaannya, namun kekuatannya sudah jauh dikurangi karena naiknya Yeltsin. Yeltsin menuntut agar partai komunis dinyatakan ilegal, karena sudah menjalankan kudeta. Traktat konfederasi pun gagal tercapai, dan akhirnya tanpa traktat ini, Uni Soviet terpecah pada Desember 1991. Setelah itu dibentuk Confederation of Independent States (CIS) untuk menjaga agar Russia tetap mengontrol negara-negara tersebut. Dan inilah akhir dari perang dingin selama 44 tahun lamanya. 
Boris Yeltsin (Kiri)


“The world is closing in
Did you ever think
That we could be so close, like brothers
The future's in the air
Can feel it everywhere
Blowing with the wind of change..”
Scorpion - Wind of Change


Sumber:
Friedman, Norman. 2009. The Cold War. London:Andre Deutsch.
http://en.wikipedia.org/wiki/Cold_war
http://en.wikipedia.org/wiki/Yalta_Conference
http://en.wikipedia.org/wiki/Potsdam_Conference
http://en.wikipedia.org/wiki/History_of_the_Soviet_Union_%281982%E2%80%931991%29 
 


No comments:

Post a Comment

Comments system

Disqus Shortname