Sunday, September 30, 2012

Tugas 2 - Plus-Minus Bersekolah di Labsky


3 Tahun itu Singkat Namun Bermakna di Hati...

LABSCHOOL ! Kata yang tidak pernah dilupakan dihati. Hampir setiap gerakan dalam kegiatan di sekolah kami menggunakan kata itu. Ketika mau duduk, berdiri, lari pagi, dan ketika ada guru atau siapapun yang berkata, “anak-anakku saya saya cintai dan banggakan....” , semua anak tentunya akan mengucapkan kata Labschool dengan keras dan semangat. Tentunya satu kata itu sangat terngiang di kepala kami anak SMA Labschool Kebayoran. Ya, kata LABSCHOOL tidak lain adalah sekolah kami tercinta. Sekolah tempat kami menimba ilmu. Sekolah tempat kami menerima banyak pengetahuan, mulai dari segi akademik maupun non-akademik. Kami dibimbing, dibina, dan ditempa agar menjadi manusia yang lebih berguna untuk kedepannya.
Sekolah kami diresmikan pada tanggal 12 Juli 2001. Memang belum terlalu lama sekolah ini berdiri. Baru kurang lebih 12 tahun gedung tempat kami menimba ilmu yang terletak di Jl. K.H. Ahmad Dahlan No. 14 Kebayoran Baru, Jakarta Selatan ini dibangun.
Labschool Kebayoran atau lebih dikenal orang-orang dengan nama Labsky, memang menjadi salah satu sekolah swasta favorit di Jakarta. Banyak orang yang memilih Labschool sebagai sekolah tujuan mereka selanjutnya. Ini mungkin menjadi salah satu kebanggaan diri saya ketika saya memasuki sekolah ini. Tak luput juga menjadi kebanggan  kakak-kakak alumni yang sudah mengenyam pendidikan selama 3 tahun di sini.
Salah satu daya tarik dari sekolah ini, adalah memiliki banyak kegiatan yang tidak dimiliki oleh kebanyakan dari sekolah-sekolah lain di Indonesia. Seperti TO atau Trip Observasi yang mengharuskan setiap murid kelas 10 di SMA Labschool Kebayoran untuk tinggal selama 5 hari di salah satu desa yang terletak di Purwakarta.
Kemudian ada juga BINTAMA yang mengharuskan kami menempuh pendidikan militer di KOPASSUS ( Komando Pasukan Khusus ). Kami harus menerima binaan mental dari para pelatih, yang tentu saja tidak mudah untuk dijalani. Mental dan fisik kami dilatih di sini, untuk menjadi manusia yang lebih kuat lagi, baik fisik maupun mental.
PILAR ( Pesantren Kilat Ramadhan ) adalah kegiatan yang dijalankan pada saat bulan puasa untuk meningkankan pengetahuan dalam bidang keagamaan. Walaupun hanya 3 hari, tapi kegiatan ini cukup menjadi bekal kami dalam kerohanian. Dan juga Ret-Ret bagi siswa yang beragama non-muslim.
Namun tak ada gading yang tak retak, disetiap kesempurnaan pasti ada kelemahan. Karena kersempurnaan hanya milik Tuhan YME. Oleh karena itu saya berusaha untuk melakukan wawancara, dengan narasumber kakak-kakak alumni dari SMA Labschool Kebayoran untuk mengetahui apa sajakah, plus dan minus, atau kekurangan dan kelebihan bersekolah di SMA Labschool Kebayoran. Alasan melakukan wawancara dengan alumni adalah, karena mereka sudah melakukan pendidikan di SMA Labschool Kebayoran selama 3 tahun. Sehingga pastinya mereka sudah bisa menggambil benang merah dari 3 tahun bersekolah di Labsky.
Wawancara melalui telpon dan BBM pun saya lakukan karena, rata-rata, kakak-kakak alumni ini sedang sibuk di dunia perkuliahan sehingga tidak punya banyak waktu untuk bertatap muka langsung. Dan ada juga yang kuliah di luar Jakarta, sehingga sangat sulit untuk mewawancaranya secara langsung. 

Narasumber pertama saya adalah Kak Nabel Ihsan Muhammad. Atau lebih akrab di panggil Kak Nabel. Kak Nabel saat ini berkuliah di Fakultas Teknik Sipil dan Lingkungan ITB (Institut Teknologi Bandung). Kak Nabel adalah ketua angkatan 9 atau lebih dikenal dengan NAWASTRA. Sewaktu bersekolah di Labsky, Kak Nabel pernah menjabat sebagai ketua umum OSIS masa bakti 2010-2011, nama OSIS yang dia pimpin adalah Dranadaraka Wiraksaka. Kelas yang menjadi kelas terakhir Kak Nabel sewaktu di Labsky adalah XII IPA 1. Selain OSIS Kak Nabel juga mengikuti ekstrakurikuler di sekolah yaitu sepak bola. Sepak bola juga merupakan olah raga favoritnya selain tenis.

Menurutnya SMA Labschool Kebayoran beberapa kelebihan yaitu sekolah di Labsky bukan hanya sekedar belajar saja tapi juga di dukung oleh organisasi yang kuat. Bagi Kak Nabel, organisasi di sekolah itu sangat penting. Karena nantinya berorganisasi sangat dibutuhkan ketika sedang berkomunikasi dengan orang lain.
Kemudian di Labsky diajarkan budaya-budaya yang belum tentu diajarkan di sekolah-sekolah lain, sehingga moral anak Labsky lebih bagus jika dibandingkan dengan anak-anak dari sekolah lain.
Guru-guru yang mengajar di Labsky juga benar-benar mengajar dengan baik, dan perhatian dengan muridnya. Terlihat sekali tanggung jawab mereka dalam mendidik anak-anak didik mereka agar bisa mendapatkan nilai yang baik.
Di Labsky, angkatannya solid, tidak ada kelompok-kelompok lain di dalam satu angkatan. Biasanya kalau ada masalah internal angkatan langsung bisa diselesaikan dengan cara baik-baik.
Dan Labsky sangat aman dari tawuran, minuman keras, juga narkoba. Tapi semua kembali ke pendirian masing-masing. 

Dari sisi negatifnya Labsky itu anaknya cenderung individualis. Karena persaingan di Labsky sangat ketat, dan anak-anak Labsky tergolong kepada anak-anak yang pintar, sehingga semua anak ingin menjadi yang terbaik. Namun kurang rasa peduli terhadap teman-teman yang lain.
Kak Nabel juga menuturkan bahwa Labsky adalah sekolah yang borjuisnya tinggi. Gaya hidup anak-anak Labsky cenderung konsumeris. Sehingga sebagian anak-anak Labsky kurang peka terhadap orang-orang yang kurang mampu yang berada di sekitar mereka. Karena semua anak Labsky tergolong dalam orang yang mampu dan ekonominya berada pada tingkat menengah ke atas.

Kak Tahlia Salima Motik, saya pilih sebagai narasumber kedua. Saat ini Kak Tahlia sedang berkuliah di Komunikasi Universitas Indonesia (UI). Sama seperti Kak Nabel, Kak Tahlia juga berasal dari angkatan 9 atau NAWASTRA.
Disekolah Kak Tahlia pernah mengikuti Organisasi Siswa Intra Sekolah (OSIS) masa bakti 2010-2011 yaitu OSIS Dranadaraka Wiraksaka. Dia mendapatkan jabatan sebagai seksi kesenian. Selain organisasi, Kak Tahlia juga aktif dalam komunitas Lamuru. Walaupun mengikuti OSIS dan Lamuru, Kak Tahlia tetap bisa menyesuaikan dirinya sehingga tidak ada masalah pada nilai-nilainya. Menurutnya kita hanya butuh manajemen waktu yang baik agar bisa menyesuaikan diri, walaupun kegiatan padat.
Menurut Kak Tahlia, Labsky itu plus nya adalah dari segi kegiatannya. Seperti TO (Trip Observasi), BINTAMA, studi lapangan. Menurutnya Trib Observasi menjadi nilai paling plus dari Labsky, karena kapan lagi kita bisa menghabiskan waktu selama 5 hari hidup di desa, merasakan kehidupan orang-orang di desa, merasakan bagaimana rasanya hidup susah.
Kemudian BINTAMA, BINTAMA itu memang sewaktu sedang dijalankan rasanya tidak enak, capek, dan sangat melelahkan. Tapi menurut Kak Tahlia, itu berguna sekali untuk melatih kedisiplinan dan juga kepemimpinan. Karena sekarang manfaatnya bisa dirasakan oleh Kak Tahlia sendiri, seperti ketika ada kegiatan kemahasiswaan, kelihatan sekali anak Labsky yang paling stand out atau menonjol diantara mahasiswa yang lain. Karena anak Labsky sudah terbiasa dengan kegiatan seperti BINTAMA, Trip Observasi, dan segalamacam kegiatan lain yang ada di Labsky. Jadi menurut Kak Tahlia, kegiatan seperti Trip Observasi dan BINTAMA memang paling membantu pada saat kuliah.
Semua kegiatan di Labsky dirasakan paling berkesan oleh Kak Tahlia, namun dirinya menuturkan bahwa, Trip Observasi memang yang paling berkesan di hatinya. Apalagi sewaktu Kak Tahlia sedang menjabat sebagai OSIS.
Kemudian dari organisasi dan komunitas yang telah diikuti oleh Kak Tahlia, dia merasakan bahwa mengikuti organisasi maupun komunitas sangat membantu saat di kuliah. Karena di OSIS, kita bisa berlajar berorganisasi, kemudian bagaimana cara bekerja dengan orang lain, bagaimana kita harus berkordinasi dan lain-lain. Itu menjadi bekal berorganisasi selama di SMA. Sehingga ketika ada kegiatan kepanitiaan Kak Tahlia sudah terbiasa karena dulu sudah pernah menjalankannya.
Selain itu Kak Tahlia juga menambahkan bahwa di Labsky tidak ada senioritas sama sekali. Menurut beliau itu sangat bagus sekali, apalagi setelah ada beberapa kasus tawuran antar pelajar yang saat ini sedang gencar-gencarnya. Di Labsky sama sekali tidak ada kasus tawuran seperti itu. Kemudian tidak ada senioritas itu penting sekali, seperti pada saat kegiatan Skyavenue. Di Labsky kakak kelasnya mengajarkan dan membimbing adik kelasnya agar tahun depan adik kelasnya dapat menjalankan acaranya dengan baik. Beda dengan sekolah-sekolah lain yang kebanyakan, yang adik kelasnya hanya di palakin saja, tidak diajarkan sama sekali, sehingga tahun depannya adik kelas tersebut tidak tahu harus berbuat apa. Jadi itu sangat penting sekali.
Kak Tahlia juga menuturkan beberapa kekurangan dari Labsky. Menurutnya fasilitas di Labsky sudah memadai. Namun dia merasa bahwa kantin Labsky itu sangat kurang. Kak Tahlia juga merasakan bagaimana harus berdesak-desakan ketika ingin membeli makanan di kantin. Ditambah lagi, pada angkatan 11, jumlah siswa di tambah 1 kelas, sehingga kantinnya dirasakan kurang memadai jumlah siswa yang ada.
Kemudian ruang musik juga harus diperluas lagi. Dan isinya kurang lengkap, hanya ada angklung, dan beberapa alat musik lain seperti drum yang sudah rusak, dan piano yang sudah tidak terawat. Seharusnya memang diperlebar, dan benar-benar dijadikan ruangan musik.
Kesan Kak Tahlia selama di Labsky adalah dia merasa bahwa Labsky itu menyenangkan. Harapan beliau bahwa, semoga kedepannya Labsky bisa menjadi sekolah yang lebih baik lagi dari pada sekarang. Semoga peringkat UN nya bisa naik lagi.
Saran dari Kak Tahlia, walaupun murid-murid sudah bisa merasa nyaman dengan para guru. Guru-guru juga harus lebih konsen lagi dengan anak muridnya. Karena dia merasa bahwa guru di SMA Labsky kurang bisa memotivasi anak-anaknya ketika anak-anaknya sedang membutuhkan motivasi yang tinggi, seperti ketika sedang berada di kelas 12. Dibawah ini adalah hasil wawancara saya dengan Kak Tahlia melalui telepon
 

Kemudian Narasumber saya yang ketiga adalah kakak alumni dari angkatan 5 atau lebih dikenal dengan PANCATRA. Dia adalah Kak Aldie Mardani atau Kak Aldie. Saat ini dia masih berkuliah di Binus University dengan menggambil jurusan teknik informatika. Sewaktu di Labsky, Kak Aldie memasuki kelas dengan program IPA.
Selama di Labsky, Kak Aldie lumayan aktif dalam berorganisasi serta bergabung dengan beberapa komunitas di Labsky. Dia bergabung dengan Lamuru, dan sampai sekarang pun masih sering membantu jika ada penampilan Lamuru yang membutuhkan alumni. Kemudian Kak Aldie pernah ikut komunitas Rohis. Dan dia aktif dalam organisasi MPK selama 2 periode. Saat kelas 1, kak Aldie pernah menduduki jabatan sebagai anggota dari Komisi Dana dan Logisitik atau lebih dikenal dengan Danlong. Nama MPK yang terakhir dia ikuti adalah Rantra Magna Sakaracastra, dengan jabatan sebagai koor. Rohani. Begitu saya menanyakan bagaimana cara dia mengatur waktu, dengan semua kegiatan yang dia ikuti, padahal dia juga masih punya tanggung jawab dari segi akademis. Dia hanya menjawab seperti ini.

“ Apa ya, ikutin alur aja kali ya, ya imbasnya kebanyakan ikut yang di luar akademis, jadi ya pelajaran sedikit keteteran paling. ”
Dari pernyataan kak Aldie diatas, dia tidak terlalu mengambil pusing dengan semua angka-angka yang di torehkan oleh guru-guru. Teguh pada pendirian menjadi pegangan Kak Aldie. Menurut saya itu ada bagusnya, karena selama ini, orang-orang hanya peduli pada nilai, dan tidak sedikit pula yang menempuh jalur curang seperti mencontek untuk mendapatkannya.
Memang tidak semudah itu untuk tidak acuh terhadap nilai yang kita dapat, karena pasti orang tua kita berharap lebih. Namun apa gunanya jika nilai kita bagus tapi kita tidak punya link atau channel untuk berkomunikasi dengan banyak orang di dunia kerja misalnya. Dengan mengikuti organisasi atau kegiatan non-akademik lain saya kira ini dapat meningkatkan kemampuan kita dalam bersosialisasi dan menambah kenalan. Namun tentunya kita jangan sampai melupakan pelajaran, itu tetap kewajiban kita sebagai pelajar. Dan alangkah lebih baiknya, jika kita bisa baik dalam bidang akademik maupun non-akademik.
Kemudian saya juga menanyakan kebihan Labsky kepada Kak Aldie. Menurut beliau kelebihan bersekolah di Labsky adalah banyak kegiatan positif yang bisa meningkatkan jiwa kepemimpinan dan kebersamaan angkatan agar menjadi lebih solid, contohnya seperti BINTAMA dan TO. Kemudian cara pendekatan guru-guru di Labsky kepada muridnya dirasa sangat friendly, sehingga bisa membuat hubungan guru dengan murid menjadi lebih akrab lagi dan menjadi seperti teman.
Kemudian banyak juga kegiatan olar raga yang membuat badan menjadi lebih sehat. Karena minimal di Labschool waktu untuk berolah raga ada dua, yaitu pada saat jam pelajaran olah raga dan pada saat lari pagi di hari Jumat yang sudah menjadi tradisi Labschool. Itu dirasa cukup untuk membuat jasmani lebih sehat dan segar, juga menghilangkan kepenatan dari 5 hari lamanya melakukan pembelajaran.
Selain itu banyak kegiatan yang sangat berguna ketika di Labsky untuk kehidupan perkuliahan. Sperti contohnya latihan kepemimpinan membuat kita menjadi lebih siap ketika berada di kampus. Kemudian pembuatan karya tulis (kartul) ketika sedang berada di kelas 12 juga sangat berguna. Itu menjadi latihan kita dalam menghadapi skripsi di kuliah. Karena menurut Kak Aldie, kartul merupakan tempat simulasi untuk membuat skripsi di universitas, lebih tepatnya seperti skripsi dalam bentuk kecil. sehingga ketika harus membuat skripsi di kuliah kita tidak terlalu kaget.

Kak Aldie juga menuturkan kekurangan dari Labsky, yaitu tempat parkirnya sangat sempit, sehingga orang yang ingin masuk labsky sulit untuk memarkirkan kedaraan mereka, dan harus memarkirkan kendaraan di luar lingkungan sekolah. Kemudian kondisi perpustakaan kurang memadai, kurang banyak koleksi buku yang bisa di jadikan referensi, contohnya pada saat pembuatan karya tulis. Koleksi buku masih terlalu sedikit sehingga masih menyulitkan bagi murid yang ingin mencari informasi lebih mendalam tentang sesuatu. Kondisi lapangan sepak bolanya juga kurang memadai untuk para siswa yang sangat gemar berolah raga.
Menurutnya pergaulan di Labsky sendiri juga sangat baik. Kita dan teman-teman bisa saling bergaul  dengan baik, namun Kak Aldie memperhatikan bahwa memang gaya hidup murid Labsky lebih “highclass”, seperti contohnya, anak SMA sudah membawa mobil sendiri ke sekolah. Padahal bisa di bilang bahwa mobil adalah kendaraan menengah ke atas.  Mungkin ini memang karena notabene nya anak Labsky berekonomi menengah ke atas sehingga, yang seperti itu dianggap wajar-wajar saja.
Kak Aldie juga menuturkan bahwa sekolah menurutnya tidak terlalu berpengaruh dalam pemilihan kampus. Karena menurut pengalamannya sendiri, saat itu dia pernah melakukan tes minat bakat, dengan hasil minatnya dalah ke kedokteran dan seni, tapi tentu saja tidak sesuai. Walaupun dia saat ini juga menikmati seninya sendiri di jurusannya sekarang.
Saran Kak Aldie untuk Labsky adalah terus tingkatkan kegiatan-kegiatan yang mendukung siswa. Kemudian jangan terlalu mengekang kreatifitas teman-teman Labsky yang luar biasa, mungkin dengan ide-ide mereka pula, nama Labsky bisa lebih dikenal lagi.
 Kesimpulannya dari hasil wawancara saya, Labsky adalah sekolah yang memiliki banyak kegiatan yang sangat berguna bagi murud-murid kedepannya. Namun masih ada beberapa hal yang harus lebih di perhatikan dan di perbaiki oleh Labsky. Semoga artikel ini bisa menjadi referensi bagi Labsky untuk kedepannya.


No comments:

Post a Comment

Comments system

Disqus Shortname