Friday, September 28, 2012

Tugas 4 - Solusi Labsky Untuk Kemanusiaan


Konflik yang tak kunjung damai



Konflik horizontal adalah konflik yang terjadi antar individu maupun antar kelompok. Di dunia belakangan ini konflik horizontal marak terjadi. Beberapa diantaranya diawali dengan hal yang sepele namun berujung dengan melayangnya nyawa.

            Dunia pada modern ini mempunyai suatu organisasi dunia yang dinamakan Perserikatan Bangsa-Bangsa yang bertugas menyelesaikan masalah-masalah yang mencakup lingkup global. Namun apakah misi Perserikatan Bangsa-Bangsa yaitu tercapainya kedamaian dunia telah berhasil? Apakah di Indonesia sudah terbebas dari konflik horizontal dan menuju kedamaian?

MASALAH

            Konflik Horizontal dewasa ini dan memang sudah dari dulu sering terjadi di belahan dunia ini. Konflik yang menyertai dua pihak yang berbeda pendirian dan saling menyerang yang mencetuskan sebuah konflik.

            Di dunia ini sudah banyak kasus konflik horizontal yang mikro maupun secara makro. Dibelahan Timur Tengah belakangan ini terjadi beberapa kasus reformasi politik yang diperjuangkan dengan diadakannya perang saudara. Seperti kasus terbunuhnya Moammar Khadafy di Libya, turun jabatannya seorang Hosni Mubarak yang dikenal sebagai penguasa Mesir dan yang masih popular yakni konflik yang masih berkecamuk yakni konflik Suriah. Konflik-konflik ini secara tidak langsung telah membuat kerugian secara materiil maupun jiwa. Pertentangan dalam berpolitik memang sebuah hal yang lumrah namun hingga mencetusnya sebuah konflik sebetulnya merugikan sebuah Negara itu sendiri.

            Kasus Israel-Palestina yang hingga kini masih berlangusng merupakan salah satu konflik yang tiada ujungnya. Konflik Israel-Palestina ini bukanlah sebuah konflik dua sisi yang sederhana, seolah-olah seluruh bangsa Israel (atau bahkan seluruh orang Yahudi yang berkebangsaan Israel) memiliki satu pandangan yang sama, sementara seluruh bangsa Palestina memiliki pandangan yang sebaliknya. Di kedua komunitas terdapat orang-orang dan kelompok-kelompok yang menganjurkan penyingkiran teritorial total dari komunitas yang lainnya, sebagian menganjurkan solusi dua negara, dan sebagian lagi menganjurkan solusi dua bangsa dengan satu negara sekular yang mencakup wilayah Israel masa kini, Jalur Gaza, Tepi Barat, dan Yerusalem Timur.

            Kasus di bidang kerohanian pun juga terjadi. Kesalahpahaman antar aliran beragama berakhir dengan sebuah pertentangan yang disertai dengan anarkisme. Sebagai contoh adalah kasus Ahmadiyah yang menyimpang dari Agama Islam. Kasus Cikeusik merupakan hasil dari konflik Ahmadiyah. Berawal dari kedatangan Ahmadiyah ke Cikeusik yang mengusik warga setempat hingga akhiwnya warga emosinya meluap dan menghancurkan beberapa fasilitas milik jemaat Ahmadiyah dan menghilangkan 3 nyawa jemaat Ahmadiyah.

            Perkelahian, atau yang sering disebut tawuran, sering terjadi di antara pelajar juga merupakan sebuah konflik. Bahkan bukan “hanya” antar pelajar SMU, tapi juga sudah melanda sampai ke kampus-kampus. Ada yang mengatakan bahwa berkelahi adalah hal yang wajar pada remaja. Dalam pandangan psikologi, setiap perilaku merupakan interaksi antara kecenderungan di dalam diri individu (sering disebut kepribadian, walau tidak selalu tepat) dan kondisi eksternal. Begitu pula dalam hal perkelahian pelajar. Bila dijabarkan, terdapat sedikitnya 4 faktor psikologis mengapa seorang remaja terlibat perkelahian pelajar.

1. Faktor internal. Remaja yang terlibat perkelahian biasanya kurang mampu melakukan adaptasi pada situasi lingkungan yang kompleks. Kompleks di sini berarti adanya keanekaragaman pandangan, budaya, tingkat ekonomi, dan semua rangsang dari lingkungan yang makin lama makin beragam dan banyak. Situasi ini biasanya menimbulkan tekanan pada setiap orang.

2. Faktor keluarga. Rumah tangga yang dipenuhi kekerasan (entah antar orang tua atau pada anaknya) jelas berdampak pada anak. Anak, ketika meningkat remaja, belajar bahwa kekerasan adalah bagian dari dirinya, sehingga adalah hal yang wajar kalau ia melakukan kekerasan pula. Sebaliknya, orang tua yang terlalu melindungi anaknya, ketika remaja akan tumbuh sebagai individu yang tidak mandiri dan tidak berani mengembangkan identitasnya yang unik.

3. Faktor sekolah. Sekolah pertama-tama bukan dipandang sebagai lembaga yang harus mendidik siswanya menjadi sesuatu. Tetapi sekolah terlebih dahulu harus dinilai dari kualitas pengajarannya. Karena itu, lingkungan sekolah yang tidak merangsang siswanya untuk belajar (misalnya suasana kelas yang monoton, peraturan yang tidak relevan dengan pengajaran, tidak adanya fasilitas praktikum, dsb.) akan menyebabkan siswa lebih senang melakukan kegiatan di luar sekolah bersama teman-temannya.

4. Faktor lingkungan. Lingkungan di antara rumah dan sekolah yang sehari-hari remaja alami, juga membawa dampak terhadap munculnya perkelahian. Misalnya lingkungan rumah yang sempit dan kumuh, dan anggota lingkungan yang berperilaku buruk (misalnya narkoba).

SOLUSI

            Pergejolakan politik khususnya di daerah Timur Tengah sebetulnya dapat diselesaikan dengan cara damai tanpa ada kekerasan. Karena jika terjadi kekerasan maka kita sendiri yang akan merasakan kerugian tersebut. Delegasi dari Negara lain sebagai mediator dinilai perlu digunakan seperti contoh pada masalah kasus Irian Barat dsb.

            Selain itu, peran Perserikatan Bangsa Bangsa sebagai organisasi dunia seharusnya bisa menengahi permasalahan-permasalahan Negara dan mencari jalan keluarnya. Mencari jalan keluarnya bisa dengan berbagai hal. Diantaranya melalui sebuah konferensi yang dihadiri dua pihak yang bersengketa dll.

            Kasus Israel-Palestina merupakan konflik klasik yang paling popular. Saya rasa kehadiran Israel cukup mengusik Palestina dan tiada rasa kemanusiaan. Israel seharusnya menepati janji yang telah disepakati sebelumnya mengenai Jerusalem milik Palestina.  Selain itu Perserikatan Bangsa Bangsa seharusnya dapat menindak tegas terhadap Israel yang melanggar hokum internasional dan dapat di pertanggung jawabkan kepada Mahkamah Internasional di Den Hague, Belanda.
            
        Solusi untuk kasus Ahmadiyah adalah, sudah semestinya pemerintah supaya menindak tegas Ahmadiyah untuk melindungi akidah rakyatnya dengan cara membubarkan organisasi tersebut kemudian pemeluknya diminta untuk kembali ke jalan yang benar. Atau Ahmadiyah di tetapkan sebagai pihak non-Islam. Serta terapkan syariah Islam secara kaffah untuk Indonesia yang lebih damai dan maju.

            Kasus tawuran pelajar yang marak dapat diatasi jika semua pihak yang terlibat mau bekerja sama. Peran seorang guru disini sangatlah vital, sebagai guru mereka seharusnya mendidik mereka secara akademis maupun non-akademis. Peran serta pemerintah sebagai penentu kebijakan juga berperan penting. Penambahan jam pelajaran dan kegiatan ekstrakurikuler bagi pemerintah adalah solusinya namun bagi saya solusinya adalah jika pemerintah mampu mengadakan pendidikan yang berorientasikan akhlak dan budi pekerti yang baik serta jika mampu memberi pekerjaan yang konkret kepada siswa seperti proyek mobil esemka yang sebetulnya lebih menyita waktu siswa dengan menyelesaikan tugas-tugas sekolah ketimbang beradu kekuatan di jalanan.

sumber: 

http://en.wikipedia.org/wiki/Israeli%E2%80%93Palestinian_conflict
http://megapolitan.kompas.com/read/2012/09/28/13202569/Tawuran.Pelajar.Bukti.Kegagalan.Kebijakan.Pemerintah
http://id.wikipedia.org/wiki/Penyerangan_Cikeusik

No comments:

Post a Comment