Thursday, September 27, 2012

Tugas 5 - Perkembangan Sistem Pendidikan Indonesia


Indonesia dan Sistem Pendidikannya

Indonesia merupakan sebuah negara yang terletak di tengah dua samudera dan dua benua. Indonesia yang merdeka pada 17 Agustus 1945 ini memiliki populasi yang sangat tinggi. Dengan kepadatan penduduk yang sangat tinggi ini, Indonesia dihadapkan pada permasalahan-permasalahan besar, salah satunya adalah masalah dalam dunia pendidikan.

Bukan masalah-masalah yang akan dibahas pada tulisan ini, namun perkembangannya sistemnya atau kurikulum-kurikulum yang pernah dipakai sampai yang saat ini masih dipakai di dunia pendidikan Indonesia.

Dimulai dengan awal mulanya pendidikan formal dikenal di Indonesia. Yang memperkenalkan sistem pendidikan formal ini adalah penjajah negeri ini sendiri, yaitu Belanda. Namun bukan berarti semua kalangan dapat menikmatinya, karena pendidikan formal pada masa itu hanya terbatas bagi kalangan tertentu saja. Sistem yang mereka perkenalkan secara kasar sama saja dengan struktur yang ada sekarang, dengan tingkatan sebagai berikut:

· Europeesche Lagere School (ELS), sekolah dasar bagi orang Eropa

ELSadalah Sekolah Dasarpada zaman kolonial Belanda di Indonesia. ELS menggunakan Bahasa Belandasebagai bahasa pengantar.

ELS atau Sekolah Rendah Eropa tersebut diperuntukkan bagi keturunan Eropa, keturunan timur asing atau pribumi dari tokoh terkemuka. ELS yang pertama didirikan pada tahun 1817dengan lama sekolah 7 tahun.

Awalnya hanya terbuka bagi warga Belanda di Hindia Belanda, sejak tahun 1903kesempatan belajar juga diberikan kepada orang-orang pribumi yang mampu dan warga Tionghoa. Setelah beberapa tahun, pemerintah Belanda beranggapan bahwa hal ini ternyata berdampak negatif pada tingkat pendidikan di sekolah-sekolah HIS dan ELS kembali dikhususkan bagi warga Belanda saja.

 

· Hollandsch-Inlandsche School (HIS), sekolah dasar bagi pribumi

Hollandsch-Inlandsche School (HIS)adalah sekolah pada zaman penjajahan Belanda. Pertama kali didirikan di Indonesia pada tahun 1914seiring dengan diberlakukannya Politik Etis. Sekolah ini ada pada jenjang Pendidikan Rendah (Lager Onderwijs) atau setingkat dengan pendidikan dasarsekarang. HIS termasuk Sekolah Rendah dengan bahasa pengantar bahasa Belanda (Westersch Lager Onderwijs), dibedakan dengan Inlandsche School yang menggunakan bahasa daerah.

Sekolah ini diperuntukan bagi golongan penduduk keturunan Indonesia asli, sehingga disebut juga Sekolah Bumiputera Belanda. Pada umumnya disediakan untuk anak-anak dari golongan bangsawan, tokoh-tokoh terkemuka, atau pegawai negeri. Lama sekolahnya adalah tujuh tahun.

· Meer Uitgebreid Lager Onderwijs (MULO), sekolah menengah pertama

MULO adalah Sekolah Menengah Pertama pada zaman kolonial Belanda di Indonesia. Meer Uitgebreid Lager Onderwijs berarti "Pendidikan Dasar Lebih Luas". MULO menggunakan Bahasa Belanda sebagai bahasa pengantar. Pada akhir tahun 1930-an, sekolah-sekolah MULO sudah ada hampir di setiap ibu kota kabupaten di Jawa. Hanya beberapa kabupaten di luar Jawa yang mempunyai MULO.

· Algemeene Middelbare School (AMS), sekolah menengah atas

AMS adalah Sekolah Menengah Atas pada zaman kolonial Belanda di Indonesia. ELS menggunakan Bahasa Belanda sebagai bahasa pengantar. AMS setara dengan SMA (Sekolah Menengah Atas) pada saat ini yakni pada jenjang sekolah lanjutan tingkat atas. AMS menggunakan pengantar bahasa Belanda dan pada tahun 1930-an, sekolah-sekolah AMS hanya ada di beberapa ibu kota provinsi Hindia Belanda yaitu Medan (Sumatera), Bandung (Jawa Barat), Semarang (Jawa Tengah), Surabaya (Jawa Timur), Makassar (Indonesia Timur). Selain itu AMS ada di Yogyakarta (Kasultanan Yogyakarta), Surakarta (Kasunanan Surakarta) dan beberapa kota Karesidenan seperti di Malang. Selain itu ada beberapa AMS Swasta yang dipersamakan dengan Negeri Di provinsi Borneo (Kalimantan) belum ada AMS.

Sejak tahun 1930-an, Belanda memperkenalkan pendidikan formal terbatas bagi hampir semua provinsi di Hindia Belanda.

Bergeser dari sejarah singkat mengenai awal pendidikan formal di Indonesia, sekarang kita akan mengupas beberapa perundangan yang menjadi dasar bagi pelaksanaan pendidikan di Indonesia. Beberapa perundang-undangan tersebut adalah sebagai berikut.

a. Undang-Undang Dasar 1945 bab XIII pasal 31 tentang hak warga Negara untuk mendapatkan pengajaran dan pemerintah mengusahakan dan menyelenggarakan suatu sistem pengajaran nasional yang ditetapkan dengan Undang-Undang.

b. Undang-undang Pendidikan No. 04 Tahun 1950. Undang-undang ini menerangkan bahwa tujuan membentuk manusia susila yang cakap dan warga Negara yang demokratis serta bertanggung jawab tentang kesejahteraan masyarakat dan tanah air.

c. Undang-Undang Republik Indonesia No. 02 Tahun 1989 tentang Sistem Pendidikan Nasional, dalam Undang-Undang ini dikatakan bahwa Tujuan Pendidikan Nasional adalah untuk mencerdaskan kehidupan bangsa dan mengembangkan manusia Indonesia seutuhnya, yaitu manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa dan berbudi pekerti luhur, memilki pengetahuan dan keterampilan, kesehatan jasamani dan rohani, kepribadian yang mantap dan mandiri serta rasa tanggung jawab kemasyarakatan dan kebangsaan. Dalam undang-undang ini juga dijelaskan bahwa semua warga Negara berhak mendapatkan pendidikan, baik yang sehat maupun warga yang memiliki kelainan mental dan fisik, mereka berhak mendapatkan pendidikan luar biasa.

d. Undang-Undang No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional. Tujuan Nasional Pendidikan adalah terwujudnya system pendidikan sebagai pranata social yang kuat dan berwibawa untuk memberdayakan semua warga Negara Indonesia berkembang menjadi manusia yang berkualitas sehingga mampu dan proaktif menjawab tantangan zaman yang selalu berubah.

e. Undang-Undang Pendidikan Nasional No. 31 Tahun 2010 tentang Pendidikan Karakter sebagai penyempurnaan pendidikan yang ditargetkan dalam Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP).

Sejarah kurikulum yang pernah diterapkan Indonesia dari kurikulum pertama sampai yang saat ini dipakai adalah:

1. Kurikulum Tahun 1947 (Rentjana Pelajaran)

2. Kurikulum Tahun 1952 (Rentjana Pelajaran Terurai)

3. Kurikulum Tahun 1964 (Rentjana Pendidikan)

4. Kurikulum Tahun 1968

5. Kurikulum Tahun 1975

6. Kurikulum Tahun 1984

7. Kurikulum Tahun 1994

8. Kurikulum Tahun 2004 (Kurikulum Berbasis Kompetensi)

9. Kurikulum Tahun 2006 (Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan)

 

Penjabarannya sendiri adalah seperti berikut.

1. Kurikulum Tahun 1947

Kurikulum ini lebih dikenal dengan nama Rentjana Pelajaran. Pada saat itu, kurikulumnya masih sangat terpengaruh oleh sistem pendidikan yang diterapkan pada saat masa penjajahan Belanda dan Jepang. Karena pada saat itu masa-masa awal kemerdekaan masih sangat terasa, maka pendidikan saat itu lebih berperan sebagai development conformism, yaitu lebih menekankan pada pembentukan karakter rakyat Indonesia sebagai warga negara yang telah merdeka, berdaulat, dan memiliki derajat yang sejajar dengan bangsa lainnya di dunia ini.

Sifat dari kurikulum ini adalah Separated Subject Curriculum dan bahasa pengantarnya sudah menggunakan Bahasa Indonesia. Hal inilah yang menjadi kelebihan dari kurikulum tahun 1947 ini pada masa itu. Sementara itu, jumlah bidang studi yang diajarkan berdasar pada kurikulum ini adalah: Sekolah Rakyat (SR) sebanyak 16 bidang studi, SMP sebanyak 17 bidang studi dan SMA jurusan B sebanyak 19 bidang studi.

2. Kurikulum Tahun 1952

Kurikulum ini bernamakan ‘Rentjana Pelajaran Terurai 1952’. Kurikulum ini merupakan sebuah bentuk penyempurnaan dari kurikulum sebelumnya. Yang menjadi ciri khas dari kurikulum ini adalah sistem pendidikan yang mulai mennasionalis dan pelajaran-pelajaran yang diajarkan memiliki relevansi terhadap kehidupan sehari-hari.

Walaupun sudah mennasionalis dan menghubungkan pelajaran dengan kehidupan sehari-hari, kurikulum tahun 1952 ini masih bertargetkan pada pendidikan yang sangat mendasar, yaitu membaca, menulis, berhitung atau yang biasa kita kenal dengan istilah calistung.

3. Kurikulum Tahun 1964

Kurikulum ini juga dikenal dengan Rentjana Pendidikan. Pokok-pokok pikiran kurikulum 1964 yang menjadi ciri khas dari kurikulum ini adalah bahwa pemerintah mempunyai keinginan agar rakyat mendapat pengetahuan akademik untuk pembekalan pada jenjang SD, sehingga pembelajaran dipusatkan pada program Pancawardhana (Hamalik, 2004), yaitu pengembangan daya cipta, rasa, karsa, karya, dan moral. Mata pelajarannya pun telah diklasifikasikan dalam menjadi lima kelompok bidang studi, diantaranya: moral, kecerdasan, emosional/artistik, keprigelan (keterampilan), dan Jasmani. Inti dari rencana pendidikan ini bahwa pemerintah mempunyai keinginan agar rakyat mendapat pengetahuan akademik untuk pembekalan pada jenjang SD, sehingga pembelajaran dipusatkan pada program Pancawardhana tersebut.

4. Kurikulum Tahun 1968

Kurikulum 1968 merupakan pembaharuan dari Kurikulum 1964, yaitu dilakukannya perubahan struktur kurikulum pendidikan dari Pancawardhana menjadi pembinaan jiwa pancasila, pengetahuan dasar, dan kecakapan khusus. Kurikulum 1968 merupakan perwujudan dari perubahan orientasi pada pelaksanaan UUD 1945 secara murni dan konsekuen.

Dari segi tujuan pendidikan, Kurikulum 1968 bertujuan bahwa pendidikan ditekankan pada upaya untuk membentuk manusia Pancasila sejati, kuat, dan sehat jasmani, mempertinggi kecerdasan dan keterampilan jasmani, moral, budi pekerti, dan keyakinan beragama. Isi pendidikan diarahkan pada kegiatan mempertinggi kecerdasan dan keterampilan, serta mengembangkan fisik yang sehat dan kuat.

5. Kurikulum Tahun 1975

      Kurikulum Tahun 1975 melakukan pendekatan-pendekatan yang di antaranya adalah sebagai berikut:

- Berorientasi pada tujuan

- Menganut pendekatan integrative dalam arti bahwa setiap pelajaran memiliki arti dan peranan yang menunjang kepada tercapainya tujuan-tujuan yang lebih integratif.

- Menekankan kepada efisiensi dan efektivitas dalam hal daya dan waktu.

- Menganut pendekatan sistem instruksional yang dikenal dengan Prosedur Pengembangan Sistem Instruksional (PPSI). Sistem yang senantiasa mengarah kepada tercapainya tujuan yang spesifik, dapat diukur dan dirumuskan dalam bentuk tingkah laku siswa.

- Dipengaruhi psikologi tingkah laku dengan menekankan kepada stimulus respon (rangsang-jawab) dan latihan (drill).

Kurikulum 1975 hingga menjelang tahun 1983 dianggap sudah tidak mampu lagi memenuhi kebutuhan masyarakat dan tuntutan ilmu pengetahuan dan teknologi. Bahkan sidang umum MPR 1983 yang produknya tertuang dalam GBHN 1983 menyiratakan keputusan politik yang menghendaki perubahan kurikulum dari kurikulum 1975 ke kurikulum 1984. Karena itulah pada tahun 1984 pemerintah menetapkan pergantian kurikulum 1975 oleh kurikulum 1984.

6. Kurikulum Tahun 1984

      Kurikulum ini merupakan lanjutan dari kurikulum tahun 1975, lebih tepatnya adalah penyempurnaan dari kurikulum 1975 tersebut.

      Model pembelajaran yang diterapkan pada kurikulum ini adalah:

- Berorientasi kepada tujuan instruksional yaitu target pencapaian siswa.

- Pendekatan pengajarannya berpusat pada anak didik melalui cara belajar siswa aktif (CBSA). CBSA adalah pendekatan pengajaran yang memberikan kesempatan kepada siswa untuk aktif terlibat secara fisik, mental, intelektual, dan emosional.

- Materi pelajaran dikemas dengan menggunakan pendekatan spiral (pengelompokkan bahan ajar berdasarkan kedalaman dan keluasan yang sesuai dengan tingkatan pendidikan siswa).

- Menanamkan pengertian terlebih dahulu sebelum diberikan latihan.

- Materi disajikan berdasarkan tingkat kesiapan atau kematangan siswa. Pemberian materi pelajaran berdasarkan tingkat kematangan mental siswa dan penyajian pada jenjang sekolah dasar harus melalui pendekatan konkret, semikonkret, semiabstrak, dan abstrak.

- Menggunakan pendekatan keterampilan proses.

7. Kurikulum Tahun 1994

Kurikulum ini dibuat sebagai penyempurnaan dari kurikulum tahun 1984. Model pembelajaran yang digunakan ialah salah satunya perubahan sistem pembagian waktu pelajaran (perubahan dari sistem semester ke sistem caturwulan), kemudian Pembelajaran di sekolah lebih menekankan materi pelajaran yang cukup padat (berorientasi kepada materi pelajaran/isi) dan pendekatan penguasaan materi (content oriented).

Ciri-ciri dari kurikulum ini adalah sebagai berikut.

Terdapat ciri-ciri yang menonjol dari pemberlakuan kurikulum 1994, di antaranya sebagai berikut.

- Pembagian tahapan pelajaran di sekolah dengan sistem caturwulan

- Pembelajaran di sekolah lebih menekankan materi pelajaran yang cukup padat (berorientasi kepada materi pelajaran/isi)

- Bersifat populis, yaitu yang memberlakukan satu sistem kurikulum untuk semua siswa di seluruh Indonesia. Kurikulum ini bersifat kurikulum inti sehingga daerah yang khusus dapat mengembangkan pengajaran sendiri disesuaikan dengan lingkungan dan kebutuhan masyarakat sekitar.

- Dalam pelaksanaan kegiatan, guru hendaknya memilih dan menggunakan strategi yang melibatkan siswa aktif dalam belajar, baik secara mental, fisik, dan sosial.

- Dalam pengajaran suatu mata pelajaran hendaknya disesuaikan dengan kekhasan konsep/pokok bahasan dan perkembangan berpikir siswa.

- Pengajaran dari hal yang konkrit ke hal yang abstrak, dari hal yang mudah ke hal yang sulit, dari yang sempit ke yang luas, dan dari hal yang sederhana ke hal yang komplek.

- Pemantapan pemahaman siswa, dilakukan dengan cara mengulang materi-materi yang masih dianggap sulit.

8. Kurikulum Tahun 2004

Kurikulum ini merupakan sebuah tonggak baru dalam dunia pendidikan Indonesia. Kurikulum tahun 2004 dikenal sebagai Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK).

Pendidikan berbasis kompetensi menitikberatkan pada pengembangan kemampuan untuk melakukan (kompetensi) tugas-tugas tertentu sesuai dengan standar performance yang telah ditetapkan. Competency Based Education is education geared toward preparing indivisuals to perform identified competencies (Scharg dalam Hamalik, 2000: 89). Hal ini mengandung arti bahwa pendidikan mengacu pada upaya penyiapan individu yang mampu melakukan perangkat kompetensi yang telah ditentukan. Implikasinya adalah perlu dikembangkan suatu kurikulum berbasis kompetensi sebagai pedoman pembelajaran.

Sejalan dengan visi pendidikan yang mengarahkan pada dua pengembangan, yaitu untuk memenuhi kebutuhan masa kini dan kebutuhan masa datang, maka pendidikan di sekolah dititipi seperangkat misi dalam bentuk paket-paket kompetensi.

Kompetensi merupakan pengetahuan, keterampilan, dan nilai-nilai dasar yang direfleksikan dalam kebiasaan berpikir dan bertindak. Kebiasaan berpikir dan bertindak secara konsisten dan terus menerus dapat memungkinkan seseorang untuk menjadi kompeten, dalam arti memiliki pengetahuan, keterampilan, dan nilai-nilai dasar untuk melakukan sesuatu (Puskur, 2002).

9. Kurikulum Tahun 2006

Kurikulum ini dikenal dengan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP). Ini merupakan kurikulum operasional pendidikan yang disusun dan dilaksanakan di masing-masing satuan pendidikan yang berlaku sampai saat ini di Indonesia. Pada KTSP ini terdapat perbedaan mendasar dengan kurikulum berbasis kompetensi sebelumnya (2004) dan kurikulum-kurikulum sebelumnya (1947-1994), yakni pada sistem pengembangannya, perubahan sistem sentralistik (terpusat) menjadi sistem desentalistik (daerah) bahwa setiap sekolah akan mempunyai rencana pendidikan yang berbeda-beda dari sekolah lain, tapi teap mengacu pada standar-standar yang terlah ditetapkan.

 

Sisi kelebihan pada KTSP ini terletak pada sistem desentralistik yang dinilai lebih mampu untuk mendiagnosa kekurangan daerah masing-masing dengan cepat, dan sistem pengklasifikasian pada setiap satuan pendidikan yang berbeda-beda, hal ini tentunya lebih memudahkan proses penyusunan model pembelajaran sesuai konsumen (siswa). KTSP ini merupakan penyempurnaan akhir yang sedang berlaku saat ini.

 

Namun, masih pula ditemukan kekurangan yang sebenarnya minim disebabkan karena kurikulum yang diberlakukan, akan tetapi kekurangan lebih condong disebabkan pada proses pengamalan konsep kurikulum yang sudah disetting sebaik mungkin tersebut, dan penyimpangan-penyimpangan subjeknya sendiri.

Dan solusi yang paling tepat, selayaknya pemerintah sebagai tokoh utama pembuat kebijakan kurikulum hendaknya mengawasi pelaksanaan kurikulum ini dengan sebaik mungkin, sehingga pada tahun mendatang, tidak perlu lagi dilakukan perubahan secara toal, namun hanya penambahan yang bertujuan untuk penyempurnaan saja.

Begitulah sejarah perjalanan dan perkembangan kurikulum-kurikulum yang diterapkan Indonesia. Ke depannya, semoga pendidikan Indonesia akan semakin membaik dan terbentuklah sumber daya manusia (SDM) yang berkualitas untuk membangun Indonesia menjadi negara yang lebih maju di masa depan.

sumber:

No comments:

Post a Comment