Thursday, September 27, 2012

Tugas 5 - Perkembangan Tatto

 SEJARAH PERKEMBANGAN TATO




            Tato, di era sekarang ini tato sudah menjadi life style dan  trend tersendiri bagi penggemarnya. Sebelum menjadi gaya trend dan fashionable seperti sekarang ini, gaya tersebut memang dekat dengan pemberontakan. Berbagai tanggapan negatif masyarakat tentang tato di tambah dengan berbagai larangan agama dengan seni mentato tubuh tersebut. “Sebenarnya tato  sendiri tidak dapat diidentifikasiakan sebagai sebuah penyimpangan atas tindakan yang dilakukan oleh seseorang, namun dilihat dari bagaimana tanggapan atau respons dari orang lain atas tindakan-tindakan yang dilakukan oleh individu yang bersangkutan.” Setidaknya itulah ykutipan dari teori labelling-nya Macionis tentang deviasi. Dalam hal ini, penyimpangan adalah sesuatu yang bebeda dan tidak atau  belum mendapat pengakuan umum. Di kota-kota besar mungkin keberadaan tato sudah dapat diterima begitu pula di Yogyakarta maupun Denpasar namun di beberapa tempat seperti Pasuruan, Blitar dan blitar tato masih memiliki persoalan tersendiri. Namun taukan kalian sebelum tato berkembang seperti sekarang ini bagaimana asal mula tato? Dimana tato pertama kali di temukan? Bagaimana masuknya tato ke indonesia?

            Tato merupakan bagian dari body painting, yaitu menggambar pada kulit tubung menggunakan alat sejenis jarum atau benda dipertajam yang terbuat dari flora. Gambar-gambar tersebut dihiasi dengan pigmen berwarna-warni. Kata tato sendiri adalah pengindonesiaan dari kata Tattoo , yang berarti  goresan,gambar atau lambing yang membentuk sebuah desain pada kulit tubuh. Dalam Ensiklopedia Indonesia di jelaskan bahwa tato merupakan lukisan berwarna permanen pada kulit tubuh(1984:241)

Tato, diyakini muncul pertama kali di Mesir saat pembangunan The Greatest Pyramids. Saat itu ketika orang-orang mesir memperluas wilayah kekuasaan mereka di saat itulah seiring juga menyebarnya  seni mentato tersebut, eksistensi-nya di perkirakan berkisar antara 4000-2000 SM. dibeberapa peradaban seperti Yunani, Cina dan Arab mereka mengadopsinya serta memperluas seni tersebut. Tato di temukan pertama kali pada seorang mumi wanita di Mesir yang bernama Amunet. Dia adalah pendeta wanita pemuja Dewi Athor. Tato yang ditemukan pda tubuhnya terletak di bawah perut dengan motif titik-titik yang saling berhubungan membentuk desain elips. Tato tersebut diyakini sebagai lambang kesuburan bagi wanita. Lalu sebelum di temukannya mumi laki-laki di temukan pula dua mumi yang diperkirakan memiliki umur yang sama dan bentuk tato yang sama pula dengan Amunet, dan salah satu di antara mereka adalah seorang penari. Lalu menjelang abad ke 2000SM. seni mentato ini menyebar ke asia selatan dan sebagian cina selatan. Masyarakat Ainu diperkirakan berimigrasi dari Asia Barat juga telah mengadopsi seni tersebut, dilihat dari ketika mereka menyebrang menuju jepang beberapa dari mereka telang mengenakan tato di tubuh mereka.
Menjelang tahun 1000SM keberadaan tato semakin berkembang, hal ini di perkirakan adanya difusi budaya akibat migrasi penduduk. Tato menyebar ke Timur Tengah lalu menyebrang melalui darat dan masuk ke India, Cina dan Kepulauan Pasifik. Pasca datangnya agama Kristen tato menjadi larangandi sepanjang daratan Eropa, namun tato tetap hidup di Timur Tengah. Namun sebelum masuknya agama Kristen ke Eropa tato di yakini terdapat beberaapa kepercayaan bahwa penandaan pada tubuh seseorang menjelang kematiannya merupakan bagian dari penandaan suatu klan(kelompok).
Sekitar pada abad ke 3, pasukan Kristen mulai memaksa masuknya mualaf mualaf baru serta merusak dan melarang berbagai symbol dalam bentuk tato. Keberadaan tato di Inggris mengalami berbagai pasang surut, beberapa bukti dari Dewan Gereja di Northumberland, bahwa tato dilarang di Inggris karena diangggap identik dengan tindakan paganism, penyembahan berhala yang terjadi pada 787M.
Diketahui bahwa raja pertama Inggris yang menggunakan tato adalah Raja Harold (1022-1066).  Lalu pada abad ke-19 tato berkembang sangat pesat dari negara Inggris yang kemudia menyebar ke negara-negara lain di eropa.
James Cook, seorang pelaut Inggris, selama pelayaran James Cook beserta anak buahnya selalu kembali dengan souvenir berupa tato yang eksotik dan oriental.  Saat kepulangannya pada tahun 1744, orang-orang London menyambut hangat ceritanya. Mereka juga sangat antusias dengana seni dan artefak tersebut . saat kembali ke London James Cook dan Kapten Tabias F. tidak sendiri, mereka membawa Omai, Omai adalah seorang ahli pen-tato tubuh dari Polynesia. Yang kemudian pada akhirnya Omai menjadi orang yang paling sensasional akibat dari kepiawaiannya membuat tato.  Dan pasca kepergian Omai, tato ternyata juga berkembang dalam penelitian didunia  kedokteran. Tato mendapat pengakuan pada 1862 Prince of Walace(yang kemudian menjadi Raja Edward VII) ketika ia mengunjungi tanah suci Yerussalem. Pada saat itu ia menggunakan tato salib di lengannya. 
Legenda bapak tato dunia, George Burchett. Lahir pada 1782, Sussex. Ia mendapat julukan sebagai Founding Fathers Tattoo Modern. Seumur hidupnya ia mengahabiskan waktunya untuk mentato. Ia melakukan pentatoan pertama kali pada umur 10 tahun. Ia sering mentato teman teman sebayanya dengan gambar yang sederhana pula entah itu salib, jangkar maupun cicin yang terlingkar di jari . peralatan yang digunakan saat itu juga, ia hanya menggunakan jarum dan tinta Indian. Kelakuannya tidak membuatnya lepas dari masalah, banyak orang tua dari teman-teman Burchett yang memarahinya atas kelakuaannya tersebut. Dan pada suatu ketika pada saat menjalani pelatihan Burchett melarikan diri ke sebuah daerah pelabuhan, disanalah ia pertama kali memulai petualangannya melihat berbagai penjuru dunia dengan sebuah kotak kecil yang berisi seperangkat tato di usianya yang masih berumur 12. Selama perjalanannya ia bertemu dengan banyak pelaut yang menggunakan tato di dada mereka, rata-rata tato yang mereka kenakan adalah nama dari kekasih mereka. Ia juga berperan dalam mentato para pelaut dengan menggambarkan naga Cina dan perahu layar di dada mereka. Pada saat Perang Dunia ke II , ia diminta untuk mentato para tentara muda, itu semua agar mereka terlihat lebih tua seperti para seniornya yang mendapatkan tato dari Negara jajahan Inggris seperti India. Selain itu Burchett juga berpengalaman mentato tentara dari suku suku lainnya, dan masing – masing tentara memiliki kesukaan yang berbeda seperti, tentara Australia yang menyukai gambar kangguru ataupun boomerang lalu tentara Kanada dengan daun dan dahannya dan Amerika yang suka dengan gambar komik.
Setelah perjalanannya akhirnya Burchett menikahi seorang dari Devon,Inggris. Perempuan yang beruntung ini juga tak lepas dari rajahan tangan Burchett. Lalu pada awal tahun 1930 burchett membuka sebuah studio tato di Waterloo Road 125 London. Kemudian ia melebarkan sayapnya dengan membuka atraksi sirkus yang diberi nama Oh My. Lalu pada hamper tahun yang bersamaan ia meluncurkan sebuah buku yang berjudul Memoirs of Tattoist. Pada tahun 1958 akhirnya buku tersebut dapat diluncurkan atas izin anaknya, Leslie Burchett.
Burchett juga merupakan seorang petualang dunia yang mengoleksi segala hal yang berhubunganh dengan tato seperti gambar hingga sejarahnya di berbagai belahan dunia. Klien Burchett pun tersebar dari berbagai kalangan dari seniman , dokter hakim, pendeta hingga bangsawan. Menurut Burchett menato merupakan kegiatan yang menyenangkan namun untuk menyelaminya tidak mudah dan melelahkan serta memerlukan waktu yang panjang.
“ you can’t learn tattooing in a minute. It’s taken me nearly seventy years to get where I am now and he thinks I’ll give it away  at five shillings lesson.”
Di Pranciss tato mengalami pelarangan karena pengaruh yang dikembangkan oleh gereja Katolik. Adapun karena menurut Kaisar Kristen dari Roma hal tersebut dianggap menjelekan imej Tuhan. Pada tahun 787 pernah diberlakukan pelarangan tato seluruh tubuh yang selalu diasosiasikan dengan tindak kejahatan dan penyembahan berhala, dan larangan tersebut dibenarkan oleh pihak gereja. Pada kenyataan tato menjadi sangat popular dimasa itu(abad 18). Namun pada awal abad 19 eksistensi tato mengalami penurunan. Pada tahun 1835 banyak terjadi kasus infeksi yang terjadi di Prancis yang disebabkan oleh tato dan pada tahun 1837 hal yang lebih buruk terjadi, pada tahun tersebut banyak kasus kematian yang dilaporkan akibat tato.
Eropa memang sangat peduli terhadap berbagai kajian mengenai tato. Bahkan hingga saat ini Ash molean Museum di Oxford masih menyimpan dia uah boneka mesir yang cantin dan bertato, terbuat dari lempung pada sekitar 2000SM. Berbagai macam desain tato dan sejarah perkembangannya dapat pula di jumpai di Tattoo Museum of Amsterdam Netherlands yang didirikan pada tahun 1996.
Di Indonesia sendiri orang-orang Mentawai di kepulauan Mentawai, suku Dayak di Kalimantan, dan suku Sumba di NTB, sudah mengenal tato sejak jaman dulu.
Bagi orang Mentawai, tato merupakan roh kehidupan. pada 1992 di pusat kebudayaan Mentawai di Pulau Siberut, sedikitnya ada empat kedudukan tato di sana. Salah satu kedudukan tato adalah untuk menunjukkan jati diri dan perbedaan status sosial atau profesi. Tato dukun sikerei, misalnya, berbeda dengan tato ahli berburu. Ahli berburu dikenal lewat gambar binatang tangkapannya, seperti babi, rusa, kera, burung atau buaya. Sikerei diketahui dari tato bintang sibalu-balu di badannya.

Bagi masyarakat Mentawai, tato juga memiliki fungsi sebagai simbol keseimbangan alam. Dalam masyarakat itu, benda-benda seperti batu, hewan dan tumbuhan harus diabadikan di atas tubuh. Mereka menganggap semua benda memiliki jiwa. Fungsi tato yang lain adalah keindahan. Masyarakat Mentawai juga bebas menato tubuh sesuai dengan kreativitasnya.

         Kedudukan tato diatur oleh kepercayaan suku Mentawai, ‘’Arat Sabulungan’’. Istilah ini berasal dari kata sa (se) atau sekumpulan, serta bulung atau daun. Sekumpulan daun itu dirangkai dalam lingkaran yang terbuat dari pucuk enau atau rumbia, diyakini memiliki tenaga gaib kere atau ketse. Inilah yang kemudian dipakai sebagai media pemujaan Tai Kabagat Koat (Dewa Laut), Tai Ka-leleu (roh hutan dan gunung), dan Tai Ka Manua (roh awang-awang). Arat Sabulungan dipakai dalam setiap upacara kelahiran, perkawinan, pengobatan, pindah rumah, dan penatoan. Ketika anak lelaki memasuki akil balig, usia 11-12 tahun, orangtua memanggil sikerei dan rimata (kepala suku). Mereka akan berunding menentukan hari dan bulan pelaksanaan penatoan. Setelah itu, dipilihlah sipatiti -seniman tato. Sipatiti ini bukanlah jabatan berdasarkan pengangkatan masyarakat, seperti dukun atau kepala suku, melainkan profesi laki-laki. Keahliannya harus dibayar dengan seekor babi. Sebelum penatoan akan dilakukan punen enegat, alias upacara inisiasi yang dipimpin sikerei, di puturukat (galeri milik sipatiti). Tubuh bocah yang akan ditato itu lalu mulai digambar dengan lidi. Sketsa di atas tubuh itu kemudian ditusuk dengan jarum bertangkai kayu. Tangkai kayu ini dipukul pelan-pelan dengan kayu pemukul untuk memasukkan zat pewarna ke dalam lapisan kulit. Pewarna yang dipakai adalah campuran daun pisang dan arang tempurung kelapa. Janji Gagak Borneo Penatoan awal atau paypay sakoyuan, itu dilakukan di bagian pangkal lengan. Ketika usianya menginjak dewasa, tatonya dilanjutkan dengan pola durukat di dada, titi takep di tangan, titi rere pada paha dan kaki, titi puso di atas perut, kemudian titi teytey pada pinggang dan punggung.

         Tato Mentawai berhubungan erat dengan budaya dongson di Vietnam. Diduga, dari sinilah orang Mentawai berasal. Dari negeri moyang itu, mereka berlayar ke Samudra Pasifik dan Selandia Baru. Akibatnya, motif serupa ditemui juga pada beberapa suku di Hawaii, Kepulauan Marquesas, suku Rapa Nui di Kepulauan Easter, serta suku Maori di Selandia Baru. Di Indonesia, tradisi tato Mentawai lebih demokratis dibandingkan dengan tato Dayak di Kalimantan. Dalam budaya Dayak, tato menunjukkan status kekayaan seseorang. ‘’Makin bertato, makin kaya,’’ katanya. Toh, Baruamas Jabang Balumus, 67 tahun, tokoh adat Dayak dari suku Taman, menuturkan, dalam tato masyarakat Dayak ada aspek lain selain simbol strata sosial. ’’Tato adalah wujud penghormatan kepada leluhur,’’ kata tokoh bernama asli Masuka Djanting itu. Contohnya adalah tradisi tato dalam kebudayaan Dayak Iban dan Dayak Kayan. Di kedua suku itu, menato diyakini sebagai simbol dan sarana untuk mengungkapkan penguasa alam. Tato juga dipercaya mampu menangkal roh jahat, serta mengusir penyakit ataupun roh kematian. Tato sebagai wujud ungkapan kepada Tuhan terkait dengan kosmologi Dayak. Bagi masyarakat Dayak, alam terbagi tiga: atas, tengah dan bawah. Simbol yang mewakili kosmos atas terlihat pada motif tato burung enggang, bulan dan matahari. Dunia tengah, tempat hidup manusia, disimbolkan dengan pohon kehidupan. Sedangkan ular naga adalah motif yang memperlihatkan dunia bawah.

        Charles Hose, opsir Inggris di Kantor Pelayanan Sipil Sarawak pada 1884, rajin mencatat legenda-legenda yang dipercaya orang Dayak itu. Dalam buku Natural Man, A Record from Borneo terbitan Oxford University Press, 1990, Charles Hose menceritakan janji burung gagak borneo dan burung kuau argus untuk saling menghiasi bulu mereka. Setelah Haid Pertama Dalam legenda itu, gagak berhasil mulus melakukan tugasnya. Sayang, kuau adalah burung bodoh. Karena tak mampu, akhirnya kuau argus meminta burung gagak untuk duduk di atas semangkuk tinta, lalu menggosokkannya ke seluruh tubuh kuau, pemakan bangkai itu. Sejak saat itulah, konon, burung gagak dan burung kuau memiliki warna bulu dan ‘’dandanan’’ seperti sekarang. Secara luas, tato ditemukan di seluruh masyarakat Dayak. Namun, Hose menilai, teknik dan desain tato terbaik dimiliki suku Kayan. Bagi suku ini, penatoan hanya dilakukan bila memenuhi syarat tertentu. Bagi lelaki, proses penatoan dilakukan setelah ia bisa mengayau kepala musuh. Tradisi tato bagi laki-laki ini perlahan tenggelam sejalan dengan larangan mengayau.

Setelah ada pelarangan itu, tato hanya muncul untuk kepentingan estetika. Tradisi tato tak hilang pada kaum Hawa. Kini, mereka menganggap tato sebagai lambang keindahan dan harga diri. Meski masyarakat Dayak tidak mengenal kasta, tedak kayaan, alias perempuan tak bertato, dianggap lebih rendah derajatnya dibandingkan dengan yang bertato. Ada tiga macam tato yang biasa disandang perempuan Dayak Kayan. Antara lain tedak kassa, yang meliputi seluruh kaki dan dipakai setelah dewasa. Lainnya adalah tedak usuu di seluruh tangan, dan tedak hapii di seluruh paha. Di kalangan suku Dayak Kenyah, penatoan dimulai ketika seorang wanita berusia 16 tahun, atau setelah haid pertama. Upacara adat dilakukan di sebuah rumah khusus. Selama penatoan, semua kaum pria dalam rumah tersebut tidak boleh keluar dari rumah. Selain itu, seluruh anggota keluarga juga wajib menjalani berbagai pantangan. Konon, kalau pantangan itu dilanggar, keselamatan orang yang ditato akan terancam. Dulu, agar anak yang ditato tidak bergerak, lesung besar diletakkan di atas tubuhnya. Kalau si anak sampai menangis, tangisan itu harus dilakukan dalam alunan nada yang juga khusus. Di masyarakat Dayak Iban, tato menggambarkan status sosial. Kepala adat, kepala kampung, dan panglima perang menato diri dengan simbol dunia atas. Simbol dunia bawah hanya menghiasi tubuh masyarakat biasa. Motif ini diwariskan turun-temurun untuk menunjukkan garis kekerabatan seseorang.

Pada zaman dahulu bahan untuk membuat Tato berasal dari arang tempurung yang dicampur dengan air tebu. Alat-alat yang digunakan masih sangat tradisional. Seperti tangkai kayu, jarum dan pemukul dari batang. Orang-orang pedalaman masih menggunakan teknik manual dan dari bahan-bahan tradisional. Orang-orang Eskimo misalnya, memakai jarum yang terbuat dari tulang binatang. Di kuil-kuil Shaolin menggunakan gentong tembaga yang dipanaskan untuk mencetak gambar tato naga pada kulit tubih. Murid-murid Shaolin yang dianggap memenuhi syarat untuk mendapatkan simbol itu, dengan menempelkan kedua lengan mereka pada semacam cetakan gambar naga yang ada di kedua sisi gentong tembaga panas itu. Jauh berbeda dengan sekarang. Saat ini, terutama di kalangan masyarakat perkotaan, pembuatan Tato dilakukan dengan mesin elektrik. Mesin ini ditemukan pada tahun 1891 di Inggris. Kemudian zat pewarnanya menggunakan tinta sintetis.

tato – hatib abdul kadir

No comments:

Post a Comment

Comments system

Disqus Shortname